|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://asyifa85.blogspot.com |
|
asyifa85@yahoo.com |
|
|
asyifa85 |
|
asyifa85@yahoo.com |





Senin, 19 Juli 2010 pukul 18:11 WIB
Penulis : agus triningsih
Aku masih di sini.
Di antara gunung-gunung perkasa yang dihamparkanNya, Ia masih kokoh berdiri, tinggi menjulang menuju permukaan langit biru, berpelukan awan-awan putih yang terserak indah, bermandikan jutaan kabut pagi, damai.
Aku masih di sini.
Di antara gemerincing air yang menderu laju, menuruni alam, menumbuk bebatuan besar yang menghalanginya, mencari setiap celah-celah bebatuan agar terus bisa berlari mengejar waktu menuju muara terindahnya, dingin.
Aku masih di sini.
Di antara permadani hijau yang membentang luas di permukaan bumi yang tak datar, jutaan pepohonan rimbun yang bergelayut manja pada alamku, yang menari indah saat sang bayu menerpa wajahnya, sungguh tak ada satu makhluk pun yang tak terpesona keelokannya, asri.
Aku masih di sini.
Di antara kicauannya, burung-burung yang bernyanyi riang, bersahut-sahutan mesra, mendendangkan irama hatinya, syahdu, di antara kepakan sayap mungilnya, bergerak indah mengangkasa luas, lepas, bebas.
Aku masih di sini.
Di antara desauan angin, yang menenggelamkanku dalam kesejukan jiwa, yang selalu membelaiku penuh kelembutan, saat mentari tersenyum cerah sepanjang hari, sejuk.
Aku masih di sini.
Di antara lukisan alam terindah, hamparan sawah, dan kerbau yang tak pernah letih membajaknya, sungai-sungai kecil dan bebatuannya yang menemaninya, ikan-ikan yang terus bergerak tanpa henti, serta itik-itik yang berbaris rapi, serasi.
Aku masih di sini.
Di antara hiruk pikuk kehidupan, manusia-manusia yang berbudi dan santun, yang senantiasa tulus menaburkan sayangnya, menyapa setiap diri yang melintasinya, ramah.
Aku masih di sini.
Di antara jutaan kenikmatan dariNya, dalam rengkuhan mesra cintaNya, dengan kesyukuran yang membuncah, bahagia, Alhamdulillah.
”Lalu, nikmat Allah yang manakah yang kau dustakan?”
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.