|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|





Kamis, 8 Juli 2010 pukul 18:15 WIB
Penulis : Catur Catriks
Wajah yang tersungkur di sana
Betapa ingin bisa menegak dan memandang sama tinggi
Tanpa harus menekuk saat bersemuka dengan wajahmu
Mata yang berkaca tebal itu
Betapa ingin melihat terang tanpa sebuah bantuan. Karena alami adalah sunnatullah, tapi mata itu rabun bila apa adanya. Saat bersitatap, mata itu tunduk dengan mengisyaratkan tinta pada kertas, menuliskan satu pasal yang tak pernah istirahat dibahas manusia. Pasal yang mampu memindahkan gunung, yang menjadi alasan mengapa Adam dan Hawa menyatu.
Hari-hari ini betapa wajah itu samar, menandai satu lelah rasa dan ceria yang telah lama hilang. Walau ada keinginan untuk berlari ke jauh, tapi dengan kelemahan ia berusaha bertahan. Ada sebuah rencana yang harus tak terlewatkan. Tapi memang di tempat ini ia tetap ingin berdiri, sampai ia menemukan pijakan yang baru. Bila ternyata ia terus berdiri di sini, sementara waktu terus berlari, adalah pilihan yang sebenarnya bukan pilihan. Seperti di sebuah negeri yang asing, gelagat tubuh tiada nyaman untuk bertahan, tapi debu wajah itu ingin dibersihkannya di rahasia yang sama ketika ia terkotori.
Wahai manusia yang mempunyai wajah terselimut, kemarilah. Aku ingin mencium kening dan mengucap sebuah nama yang muncul dalam sebagian mimpimu. Ketahui, kau hanya memilikinya di sana dan tidak di alam nyata.
Basuhan air dan pejaman mata di balik tapak tangan akan menutup sesaat.
Saat hembusan segar berusaha masuk ke dalam benak, di sekujur relung.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Catur Catriks sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.