|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
insmile_online |





Senin, 1 Februari 2010 pukul 18:30 WIB
Penulis : Imroah
Begitu cepat waktu beranjak dewasa, serasa baru sesaat pagi menyapa. Ah... Manusia selalu saja mengeluh tanpa mau bertafakkur meresapi nikmatNya. Aku melamun dalam kesendirian dengan tatapan menerawang mencoba menembus lapisan nikmatNya yang tiada batas. Seharusnya aku bersyukur atas apa yang Dia berikan padaku, yang hingga kini aku masih bisa merasakan itu semua.
Subhanallah...
Kembali batinku berbisik menyebut keindahan asmaNya ketika mataku tak sengaja mendarat pada seraut wajah nan elok jelita. Senyumnya yang ramah, wajah ayunya semakin sempurna dengan balutan kerudung yang menutupi kepalanya. Tatkala mataku bergeser ke kanan, tampak di sebelah gadis itu seraut wajah tampan, mungkin mereka sepasang angsa putih yang sedang berenang. Aku mengagumi keduanya bukan karena apapun, melainkan karena kebesaran Rabbku yang begitu indah menciptakan rupa kedua insan itu.
Kuteruskan langkahku selepas aktifitasku. Menyusuri jalan... Kulihat seorang lelaki keluar dari rumah mewah. Dia tampak sederhana, mungkin dia tamu dari tuan rumah mewah itu. Tapi yang membuatku tersentuh, tangannya menuntun halus seorang wanita. Istrinyakah? Mungkin... Dia mempersilahkan wanita yang dituntunnya itu menaiki pedal sepeda sederhananya. Berdua, sesaat kemudian melaju dalam kehangatan kasihNya.
Subhanallah...
Indahnya sore ini Rabbi...
Kulihat kasihMu dalam rengkuhan indahnya perjalananku kali ini.
Kakiku masih terus melangkah hingga aku menemukan sosok kecil yang manis, wajahnya yang lucu dan menggemaskan menggelitik batinku untuk mencubit pipinya yang gembil. Anak ini membuat hatiku ikut tersenyum. Tuhan, untuk kesekian kalinya aku mengagumiMu. Tiap aku melihat wajah-wajah mungil yang tanpa dosa itu, kepenatanku yang serasa memuncah hingga ke ubun menguap begitu saja bersama luapan keceriaan manusia-manusia mungil ini. Sejenak lelahku hilang, tapi lelah jiwaku, kehampaan sukmaku seakan makin membawaku terpuruk di dalam kekosongan tanpa teman.
Wahai Khaliq, beri aku seorang teman yang bisa menjagaku, mengisi batinku yang hampa, dan membawaku dalam rengkuhan kasihMu. Menggiringku bermunajat padaMu tanpa lelah. Bantu aku untuk tetap sabar menanti hadirnya, karena jiwaku yang rapuh tak kan sanggup tanpa ridhaMu. Kini aku makin menyadari betapa bergantungnya aku padaMu, alangkah nistanya jika aku masih kerap berlari meninggalkan panggilanMu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Imroah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.