|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|


Kamis, 7 Januari 2010 pukul 18:25 WIB
Penulis : Ichy Azalea
Tuhan menegurku subuh tadi. Menegurku dengan cinta dan kasihnya. Menyadarkanku akan dalamnya rahmatNya. Alarm yang teriak-teriak di dini hari buta, kumatikan lagi dengan santainya, mengabaikan panggilan cintaNya. Subuhnya aku terbangun bersama rasa gelisah yang menggelayut, berdampingan dengan rasa bersalah. Allah begitu baik, ditegurNya aku dengan cinta.
Sore ini, Tuhan menegurku lagi, masih dengan sepenuh kasihNya. Dengan alasan setumpuk tugas yang harus segera diselesaikan, aku mengabaikan waktu berkasih denganNya. Saat adzan Ashar menggema syahdu, aku masih terpaku di depan lembar-lembar keduniaan dan melalaikan keutamaan shalat di awal waktu. Padahal malaikat telah berjaga menunggu untuk membawa persembahan cintaku. Ya Allah, sudah berapa tumpuk dosaku hari ini.
Begitu mudah diri ini mengakui kesalahan, namun begitu mudah pula melakukannya lagi. Ya Allah, masih saja belum istiqamah diri ini. Allah, jika Kau sempat terlalaikan lagi olehku, tegurlah aku dengan cintaMu. Belailah aku dengan ampunanMu, selimuti hidupku dengan rahmatMu. Kuingin terus berkasih denganMu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ichy Azalea sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.