|
HR. Ahmad : "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya."
|
|
|
insmile_online |

Senin, 26 Oktober 2009 pukul 17:39 WIB
Penulis : Imroah
Dunia pesakitan.
Sapaan membuat mata-mata liar tak berkedip, melanglangbuana, memburu surga dunia. Atas nama kebebasan, mereka menerjang malu dan keaiban, atau bersembunyi menghindari larangan yang terus mengejar. Nafsu merajalela menguasai adab manusia, dengan kesadaran atau mungkin perangkap kesadaran. Tak ada yang heran, tak ada keraguan mengawali langkah insan-insan yang ternoda akal.
Aku terpojok di antara gemerlap durjana yang tertawa tanpa hambatan penyesalan. Beginikah yang mereka sebut kenikmatan? Beginikah buah kemajuan? Jangan heran jika Tuhan berkali murka, dan jangan menangis jika kelak ketidakhirauan manusia berbuah petaka.
Di mana cinta yang diagungkan pemujanya? Di mana keagungan moral berbicara? Aku melihat semua diam, atau sesekali bicara namun tak bermakna atau justru sengaja membungkam kata dan seolah-olah buta? Apakah jiwa-jiwa cerdas ini semua telah cacat? Sampai di mana tingkat pembelajaran mereka tentang kehidupan? Nyaris tak bernada, datar tanpa nafas, kaku tak tersentuh.
Dunia telah keriput seiring kedewasaannya yang tersembunyi di balik angkara. Nyali hanya terpelihara oleh nafsu belaka. Keterbukaan ditindas keegoisan yang tak bernyawa, mencabut roh tanggung jawab dan membuangnya begitu saja.
Ibu pertiwi menjerit, mengejan, hingga tak bersuara. Tapi tak ada sahutan, tak ada yang mendengar. Semua tuli, semua bisu, semua buta. Pendar-pendar cahaya memudar bersama api yang menyisakan sekam. Panas bara hanya tersimpan di puncak-puncak kepundan yang mengelilingi alam.
Ingin sekali aku menari dan berolah gaya di tengah-tengah mereka yang haus kenikmatan. Masihkah mereka peduli? Berhentikah mereka dari aktivitas yang tak pernah terpuaskan? Mereka selalu bersembunyi di balik semak-semak rerumputan menjadi tikus-tikus rakus yang berkedok keadilan. Membiarkan anak-anak mereka liar tanpa arah melampaui kodrat sebagai manusia saat ia terlahir dari rahim ibunya.
Ketika hanya kertas-kertas yang berbicara, dunia telah pesakitan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Imroah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.