
Pelangi » Bingkai | Senin, 14 September 2009 pukul 17:35 WIB
Lelaki yang Terindu
Penulis : agus triningsih
Saya merindukannya. Lelaki yang selalu membuat saya kuat di saat diri begitu lemah. Lelaki yang selalu membuat saya mengerti makna “perjuangan “ dalam hidup ini. Lelaki yang semakin membesarkan rasa “sayang” saya terhadap Bapak.
Ahh, sungguh, saya benar-benar telah merindukannya. Lelaki yang begitu saya kagumi ketegaran dan kerja kerasnya. Wajahnya yang sedemikian sayu dan penuh ketulusan tak sama sekali dapat terlupakan. Rindu ini telah sedemikian besar. Telah sebulan sosok itu menghilang dari kehidupan saya, setelah dulu hampir setiap hari saya bisa menjumpainya. Menatapnya dari kejauhan, di waktu dhuha ataupun kala hari menjelang senja. Lelaki itu telah memberikan banyak inspirasi juga motivasi dalam hidup ini, meski saya tak sama sekali mengenalnya, bahkan tak sama sekali pernah menyapanya.
Kini, saya benar-benar ingin menjumpainya lagi. Masih teringat episode malam yang dingin bersamanya. Ketika itu, saya pulang setelah maghrib di masjid kampus, menunggu hujan yang tak kunjung reda. Tapi akhirnya saya harus pulang meski tanpa mantel, bertemankan hujan dan gelapnya malam. Memasuki jalan raya baru, jalanan terasa sepi. Hampir tak ada kendaraan yang melintas. Jika ada, tak lebih dari jumlah jari-jari tangan. Lampu jalanan tak sama sekali hidup, karena kerusakan teknis pada kabel-kabel paralelnya. Gerimis semakin lebat, melewati hutan-hutan kecil sendiri tanpa teman, di antara malam yang semakin dingin. Tiba-tiba lampu motor mati, hanya tersisa lampu “sen” yang hidup kelap-kelip memberikan sedikit penerangan di antara malam yang tak bersahabat.
Suasana hati semakin mencekam. Takut! Bukan takut karena syetan yang sesungguhnya, tapi takut dengan syetan-syetan yang berwujud manusia. Saat-saat begitu “melon” saya kambuh. Air menggenang di pelupuk mata, lalu jatuh sebagaimana tetes-tetes air yang jatuh dari langit malam itu. Lelah, kalut, dan takut bercampur jadi satu, hasilnya tangis tanpa suara itu pecah.
Di antara tangis dan di antara hujan, saya melihat sosoknya. Tubuhnya tak kalah “basah” dengan saya. Ia tetap tegar berjalan sambil mendorong gerobaknya yang berisi belasan jerigen-jerigen minyak. Terlihat langkah-langkah kakinya yang mengisyaratkan keletihan yang amat sangat. Tubuh laki-laki tua itu terlihat menggigil kedinginan. Tapi ia tetap berusaha kuat berjalan menempuh berkilo-kilo perjalanan menuju rumahnya sendiri tanpa”cahaya” yang ia bawa.
Sungguh, demi melihatnya, tangis ini langsung terhenti. Malu! Malu denganNya, karena sungguh, yang saya alami malam itu masih lebih baik dari lelaki tua itu. Ada kesyukuran yang membuncah dari relung jiwa. Melalui lelaki tua itu, Allah “menegur” saya, agar tak mudah mengeluh dalam kondisi apa pun, karena sesungguhnya setiap peristiwa pastilah berarti dan bermakna.
Seringkali Allah menegur saya melaluinya, itu sebabnya, saat tak lagi bisa menemukan sosok itu kembali, ada nyanyian rindu yang bergema dalam hati. Entah ke mana perginya. Tak ada tempat untuk bertanya. Hanya kidung kerinduan yang terdendangkan setiap saat padanya, lelaki tua yang tangguh.
Pontianak, Agustus 2008
KotaSantri.com © 2002-2026