|
HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
|
|
|
http://asyifa85.blogspot.com |
|
asyifa85@yahoo.com |
|
|
asyifa85 |
|
asyifa85@yahoo.com |





Senin, 14 September 2009 pukul 17:35 WIB
Penulis : agus triningsih
Saya merindukannya. Lelaki yang selalu membuat saya kuat di saat diri begitu lemah. Lelaki yang selalu membuat saya mengerti makna “perjuangan “ dalam hidup ini. Lelaki yang semakin membesarkan rasa “sayang” saya terhadap Bapak.
Ahh, sungguh, saya benar-benar telah merindukannya. Lelaki yang begitu saya kagumi ketegaran dan kerja kerasnya. Wajahnya yang sedemikian sayu dan penuh ketulusan tak sama sekali dapat terlupakan. Rindu ini telah sedemikian besar. Telah sebulan sosok itu menghilang dari kehidupan saya, setelah dulu hampir setiap hari saya bisa menjumpainya. Menatapnya dari kejauhan, di waktu dhuha ataupun kala hari menjelang senja. Lelaki itu telah memberikan banyak inspirasi juga motivasi dalam hidup ini, meski saya tak sama sekali mengenalnya, bahkan tak sama sekali pernah menyapanya.
Suasana hati semakin mencekam. Takut! Bukan takut karena syetan yang sesungguhnya, tapi takut dengan syetan-syetan yang berwujud manusia. Saat-saat begitu “melon” saya kambuh. Air menggenang di pelupuk mata, lalu jatuh sebagaimana tetes-tetes air yang jatuh dari langit malam itu. Lelah, kalut, dan takut bercampur jadi satu, hasilnya tangis tanpa suara itu pecah.
Seringkali Allah menegur saya melaluinya, itu sebabnya, saat tak lagi bisa menemukan sosok itu kembali, ada nyanyian rindu yang bergema dalam hati. Entah ke mana perginya. Tak ada tempat untuk bertanya. Hanya kidung kerinduan yang terdendangkan setiap saat padanya, lelaki tua yang tangguh.
Pontianak, Agustus 2008
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.