|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
|
anaitsi |
|
http://facebook.com/anaitsi |
|
http://friendster.com/anaitsi |

Kamis, 11 Juni 2009 pukul 17:16 WIB
Penulis : istiana ayuningtyas
Yas, lima bulan yang lalu, kau meninggalkanku. Tanpa kata berlalu begitu saja, tanpa tahu apa kesalahanku. Ada apa denganmu, Yas?
Yas, tahukah kamu, saat itu tiap hariku tak hanti-hentinya aku menangis. Bayangmu selalu ada dalam benakku. Hari-hariku sepi tanpamu, Yas!
Yas, bila tiada mendalam cinta dan kerinduan tak sesakit ini yang kurasakan. Sungguh, Yas, aku tak membencimu meskipun kau menyakitiku.
Yas, saat itu diriku hanya bisa berdo'a pada ALLAH agar mengembalikan dirimu padaku, tiap malam aku pinta pada ALLAH, Yas. Aku tahu, Yas, dirimu tak setampan nabi Yusuf, tak setabah nabi Ayub, tak sekaya nabi Sulaiman, dan tak seistimewa nabi Muhammad. Keinginan untuk menjadi pendampingmu pada diriku sangat kuat, Yas.
Yas, tapi aku mulai sadar, do'aku terlalu berbahanya untukku. Aku mulai sadar, apa yang kuanggap baik, belum tentu baik di mata ALLAH. Lalu kuubah do'aku dari "Ya ALLAH, jadikan Yas pendampingku!" menjadi "Ya ALLAH, bila Yas baik untukku, maka jadikan Yas pendampingku. Tapi bila tidak, maka kuatkan hatiku, dan segera kirim pengganti Yas, yang terbaik untukku, untuk dunia dan akhiratku."
Yas, hari demi hari kulalui tanpa dirimu. Terasa amat berat, Yas. Tapi aku mulai sadar, bahwa di atas cinta masih ada cinta, yaitu cinta ALLAH pada makhluk ciptaanNya. Dan aku juga sadar, apa pun yang kumiliki di dunia ini, semuanya adalah milik ALLAH.
Yas, kini kau kembali padaku, meminta diriku untuk jadi pendampingmu, di saat hatiku mulai merelakan kepergianmu, di saat ada orang lain yang juga memintaku untuk menjadi istrinya. Dan hatiku kini galau, siapakah yang harus kupilih? Dirimu, Yas? Ataukah dirinya?
Yas, semua kuserahkan pada ALLAH. Siapa pun yang kupilih, pasti yang terbaik untukku. Seandainya nanti dirimu tidak menjadi pendampingku, jangan marah padaku. Mungkin diriku bukan yang terbaik untukmu, dan semoga dirimu mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dari diriku.
Yas, bila kau kupilih jadi pendampingku, aku pinta jangan pernah menyakitiku. Tunggu jawaban dariku, Yas, karena saat ini diriku masih meminta jawaban pada ALLAH. Apa pun keputusanNYA, itulah yang terbaik Yas, untuk dirimu dan diriku.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan istiana ayuningtyas sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.