|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 16 April 2009 pukul 17:33 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Allah… Rasa itu kembali menusuk ulu hati. Mungkin ini hanya sebuah sensitivitas rasa dari kesejatian pemaknaan yang lebih tertutupi sisi kemanusiaan. Namun inilah yang kini terasa. Aku yang ternyata hanya wanita biasa, yang airmatanya akan menetes ketika sedih mendera, yang masih dengan sangat jelas merasakan pedihnya luka.
Allah… Asa itu, yang pernah melambung tinggi. Ketika pada akhirnya Engkau takdirkan tak pernah terwujud. Memercik kumparan kecewa dalam dinding hati. Dan ketika pemahaman tentang sabar menawarkan solusi, aku mengikutiya tanpa perlawanan. “Inilah yang terbaik," bisik sekeping nurani untuk senyum yang harus terus merekah. Dan… Aku pun tetap tersenyum.
Allah… Di balik rekah senyum itu, ada hati yang tetap saja merasakan sakit. Dalam peluh kesabaran menghantarkan selarik permohonan, “Gantilah dengan yang lebih baik," untuk kerinduan akan sebuah persinggahan. Untuk kesempurnaan ad-dien yang muaranya menujuMu.
Allah… Ampuni dosaku, untuk rasa sakit yang seharusnya tak pernah ada, untuk peluh kesabaran yang mengurangi kadar keikhlasan, untuk cinta yang seharusnya tetap bersandar karenaMu.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.