Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Santri
muhammad syaiful
Wiraswasta
sidoarjo
Muchammad Su'eb
Sunan Giri Created
Martapura
Rohman
Wiraswasta
Tasikmalaya
Forum
Suara
Azwar : 2021 siapa yang masih ada di KSC ? #senyum
Fahima : Kembali setelah sekian tahun...
Tulisan
Forum
Ta'aruf dan Pernikahan
bagaimana hukum y jika pernikahan yang di lakukan untuk kedua kali y tidak dengan persetujuan kedua orang tua atau pun persetujuan dari anak-anaknya yang terdahulu?
28 Mei 2011 pukul 10:51 WIB • 1548 Klik • 7 TanggapanSuka
Mujahid Alamaya
Dari semua imam mazhab, hanya satu saja yang membolehkan wanita yang janda menikah tanpa wali. Yaitu pendapat kalangan Al-Hanafiyah.
Di antara salah satu alasannya adalah karena wanita yang sudah janda boleh menjadi wakil dari walinya sendiri. Sehingga walinya tidak perlu hadir. Atau bahkan disebutkan bahwa seorang janda itu lebih memiliki dirinya ketimbang walinya.
Namun pendapat ini adalah pendapat menyendiri, berbeda jauh dengan pendapat kebanyakan ulama. Apalagi mengingat dalil-dalil nash memang menunjukkan keharusan mutlak adanya wali.
Bahkan istilah ijab dan kabul itu sendiri sudah mencerminkan keharusan adanya wali nikah. Ijab itu akad yang diikrarkan oleh seorang wali, isinya bahwa sebagai wali, dirinya akan menikahkan seorang laki-laki dengan wanita yang diwalikannya.Sedangkan qabul adalah jawaban dari pihak calon suami yang intinya menyepakati isi materi ijab.
Kalau tidak ada walinya, lalu siapa yang mengucapkan ijab? Tidak mungkin yang mengucapkan ijab itu suami. Sebab suami berada pada posisi menyetujui atau mengucapkan qabul. Apakah calon isteri yang mengikrarkan ijab?
Juga lebih tidak mungkin lagi. Masak seorang wanita berkata, "Aku nikahkan kamu Fulan bin Fulan dengan diriku sendiri, Fulanah binti Fulan dengan mas kawin emas 20 gram tunai." Ah... sebuah ijab qabul yang aneh, bukan?
Padahal ijab qabul itu punya konsekuensi hukum teramat berat. Di antaranya, halalnya faraj seorang wanita. Juga adanya kewajiban nafqah suami kepada isteri. Bila salah satu meninggal dunia, mereka saling mewarisi harta pasangannya.
Oleh karena itu, maka seorang wanita meski sudah pernah punya suami, menurut pandangan jumhur ulama tetap saja tidak bisa menikahkan diri sendiri semaunya. Sebab kalau demikian, lalu apa bedanya dengan zina?
Bukankah pasangan zina yang haram itu bisa saja mencari dalih yang membolehkan, sebelum berzina mereka bikin akad dulu sebentar, paling hanya satu menit saja, lalu mereka tiba-tiba jadi halal melakukan hubungan seksual layaknya suami isteri. Tentu akan terlalu banyak madharat yang akan timbul dengan cara seperti ini.
Jumhur ulama berpendapat bahwa dalil tentang seorang janda lebih memiliki dirinya sendiri ketimbang walinya, harus dipahami bahwa walinya tidak terlalu berhak lagi untuk mengatur-atur hidupnya, termasuk jodohnya. Namun untuk urusan menikah lagi, tetap saja kedudukan wali tidak tergantikan selamanya.
Ahmad Sarwat, Lc.
28 Mei 2011 pukul 11:01 WIB
Puspita
terimakasih jawaban nya,tapi jika kenyataan yang terjadi seperti itu apakah pernikahan nya sah atau tidak,,,?
28 Mei 2011 pukul 11:24 WIB
Mujahid Alamaya
Dari Aisyah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wanita manapun yang menikah tanpa seizin walinya, maka nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal, nikahnya adalah batal. Jika dia telah digauli, maka dia berhak mendapatkan mahar, karena lelaki itu telah menghalalkan kemaluannya. Jika terjadi pertengkaran di antara mereka, maka penguasalah yang menjadi wali atas orang yang tidak punya wali.” (HR. At-Tirmizi no. 1021)
28 Mei 2011 pukul 11:28 WIB
ida nurlaila
ehm tanyanya kan persetujuan toh?
28 Mei 2011 pukul 18:03 WIB
Mujahid Alamaya
Oia, baru ngeh.
Orangtuanya mau jadi wali gak walaupun gak setuju?
Kalau orangtuanya gak mau jadi wali, ya sesuai hadits At-Tirmizi no. 1021. Tapi kalo orangtuanya mau jadi wali, insya Allah pernikahannya sah.
Wallahu a'lam.
28 Mei 2011 pukul 18:47 WIB
Untuk memberikan tanggapan, silahkan login terlebih dahulu.
Anna | Staff UPT Laboratorium
Subhanallah... KotaSantri.com isinya bagus, menarik, dan yang pasti banyak artikel-artikel yang menambah ilmu dan pengalaman.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.6329 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels