HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Santri
Yuniati Suryoatmojo
belum bekerja
Jakarta Pusat
Humaidi Thaher
Engineering
Tangerang
Yuananda Nur
Teknisi Komputer
Lumajang
Forum
Suara
Azwar : 2021 siapa yang masih ada di KSC ? #senyum
Fahima : Kembali setelah sekian tahun...
Tulisan
Forum
Ta'aruf dan Pernikahan
Menikah adalah melaksanakan sunnah Rasul yang besar sekali hikmah dan pahalanya. Hal yang paling penting dalam pernikahan adalah terjadinya akad nikah. Bersamaan dengan ini, pernikahan juga perlu diumumkan agar diketahui oleh khalayak demi membedakannya dengan perzinahan sekaligus sebagai wujud syukur kepada Allah Swt. Pelaksanaan walimah ini hendaknya dilakukan sesuai dengan kemampuan. Namun, kecenderungan masyarkat kita adalah mengadakan walimah berupa pesta yang “wah” dan “besar”. Bagi orang yang belum cukup secara ekonomi, menjadikan pernikahan ditunda dan ditunda karena belum punya biaya untuk mengadakan pesta. Bagaimana pendapat teman-teman santri?
22 Februari 2011 pukul 09:11 WIB • 2318 Klik • 16 TanggapanSuka
Akhmad Muhaimin Azzet
Mas Danny Roza: benarlah demikian, Mas, saya setuju, semuanya mesti disesuaikan dengan kemampuan. Saya beberapa kali menghadiri pernikahan sahabat yang dilakukan sangat sederhana (karena memang kemampuannya demikian), hanya dihadiri beberapa orang dari wakil dua keluarga, beberapa sahabat akrab, dan dua atau tiga tetangga dekat. Acara walimah sangat sederhana: duduk bersama di ruang tamu yang bertujuan sekadar menyampaikan adanya pernikahan, lalu mendoakan pengantin agar pernikahannya barakah. Begitu saja. Ya, begitu saja. Tapi saya merasakan sebuah acara yang syahdu luar biasa.
23 Februari 2011 pukul 08:51 WIB
Mujahid Alamaya
Saya pernah dapat cerita dari salah seorang sahabat, "Seorang saudaranya menggelar pesta pernikahan dan menghabiskan sekian puluh juta, entah dana sendiri atau utang. Setelah pesta usai, saudaranya tersebut kebingungan, untuk membeli perlengkapan rumah tangga yang sekedar tempat tidur saja ia tidak sanggup."
Di lain waktu, saya pernah menghadiri pernikahan sahabat saya, dua-duanya merupakan netter KSC. Pernikahannya sangat sederhana sekali. Menikah di tempat kontrakan, pakaian alakadarnya, jamuan yang sederhana, hanya mengundang saudara dan tetangga sekitar.
23 Februari 2011 pukul 09:10 WIB
Mariam Komalawati
Ukurannya adalah sesuai kemampuan, kemampuan seseorang berbeda, maka hitungan sederhana menurut masing2 pihak jg kayaknya berbeda. Bisa jadi seseorang yg mengadakan pesta menurut kita "wah" namun dalam takaran kemampuannya biasa2 aja..
but, pasti yang paling pentinga\ adalah kesakralan n tindak lanjut pasangan ke depannya bagaimana dalam memperjuangkan keberlangsungan keluarga yang samara, yang diberkahi Allah.. Wallahu'alam
23 Februari 2011 pukul 10:29 WIB
Akhmad Muhaimin Azzet
/Bang Mujahid: sepertinya inilah kecenderungan masyarakat kita pada umumnya. Pesta pernikahan dikaitkan secara erat dengan harga diri dan gengsi. Bila dana ada dan diniatkan untuk berbagi kebahagiaan dengan sanak kerabat dan kenalan, terutama orang miskin, sungguh tidak masalah, asalkan tidak menjurus kepada kemubadziran. Yang menjadi masalah adalah tidak ada lantas diada-adakan hingga menyisakan utang yang tidak sedikit. Namun, kita juga tidak menutup mata terhadap keadaan sekaligus kesadaran di antara saudara kita kita yang mengadakan walimah yang sesuai dengan kemampuan.
24 Februari 2011 pukul 09:04 WIB
Akhmad Muhaimin Azzet
/Mbak Mariam Komalawati: benar sekali, Mbak, ukuran sesuai dengan kemampuan bagi setiap orang itu berbeda. Inilah yang penting sesungguhnya yang menjadi patokan ketika kita akan menyelenggarakan walimah. Bukan mengada-adakan sehingga malah menjadi beban yang memberatkan. Dan, ukuran sesuai dengan kemampuan ini yang bisa mengukur adalah diri kita sendiri; bukan orang lain. Setuju sekali, Mbak, yang paling penting adalah acara setelah menikahnya; jangan sampai setelah menikah malah menanggung beban yang tersisa dari acara pesta pernikahan. Dengan demikian, semoga rumah tangga yang dibangun ke depannya dapat melangkah lebih ringan dalam membangun keluarga yang samara. Allahumma amin....
24 Februari 2011 pukul 09:04 WIB
Untuk memberikan tanggapan, silahkan login terlebih dahulu.
oblongsantri | desainer dan konveksi
Banyak referensi yang bisa didapat, untuk perkembangan ide dan kreasi di oblong santri. Keren.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.8736 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels