Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
Alamat Akun
http://shirotsuya.kotasantri.com
Bergabung
6 Oktober 2009 pukul 19:26 WIB
Domisili
Sleman - DI Yogyakarta
Pekerjaan
Pengajar & Pendidik (Guru)
I'm a learner. I like writing, sports practicing, adventouring, travelling. I have enough sense of humour. I'm a kind and funny person. I'd love to making a friendship.
shirotsuya@gmail.com
shirotsuya
Catatan Ninja Lainnya
Catatan
Ahad, 3 Januari 2010 pukul 18:00 WIB
Banjir di Tengah Malam

Oleh Ninja Insaf

Malam itu, aku baru pulang dari kampus. Biasa, aktivis kampus sepertiku pulang malam, bahkan tak jarang aku tidak pulang. Pernah juga sampai dua hari. Ibu sering menanyakan; “nek ora mulih ngono kuwi le mu turu neng ngendi to Le?” (“kalau gak pulang gitu kamu tidurnya di mana sih Nak?”)

Dengan santai kujawab “nggih ten pundi-pundi saged, Mak. Kancanipun kathah kok. Menawi perlu, tilem ten mesjid njih saged.” (ya di mana saja bisa, Bu. Temannya banyak kok. Kalau perlu, tidur di masjid pun bisa.”

”Yo uwis. Tur nek ora bali yo ngabari, nges-em-es kakangmu. Men ora dadi pikiran. Sanajan kowe ki cah lanang, yen ora ono kabar opo-opo Mamak ki yo mikir Le.” (Ya sudah. Tapi kalau tidak pulang ya mengabari, meng-SMS kakakmu. Biar tidak jadi pikiran. Meski kamu itu anak laki-laki, kalau tidak ada kabar apa-apa Ibu juga mikirin kamu Nak.)

Begitulah. Tidak hanya sekali pembicaraan itu terjadi. Yah, ternyata orang seperti aku juga ada yang memikirkan. Ahh, dasar, tidak tahu diri sekali aku. Harusnya aku paham, orang tua sudah semestinya memikirkan keselamatan putra-putrinya. Dan sekarang aku kembali diingatkan, orang tua yang normal pastilah sangat menyayangi putra-putri mereka. Menginginkan yang terbaik bagi mereka. Termasuk aku tentunya, meski aku sudah sebesar ini, yang sering mengklaim sudah dewasa diri. Nyatanya, cinta orang tua tak berubah dari ketika anaknya masih kecil. Bagai mentari yang senantiasa menyinari bumi, hangat lagi menghidupi.

Aku tiba di rumah sudah lebih dari jam delapan malam. Ah... lelah sekali rasanya badan ini. Kuputuskan beristirahat sebentar sebelum melakukan yang lainnya, mandi, makan malam dan mengerjakan tugas.

”Sudah shalat Isya’ belum?” tanya Ibu.

”Sudah, di kampus tadi.”

”Kalau gitu cuci tangan dan cuci muka dulu sana gih, lalu makan.”

”Makannya nanti aja Bu, tidak sehat jika habis perut kosong langsung diisi makanan berat.” sahutku.

”Ya sudah. Oya, tadi kakak iparmu membawa gorengan dan beberapa plastik es teh. Ada sisa dari warung, lalu dibawa sekalian ke sini.”

Wah, seger nih, siiiplah, pikirku. Aku pergi ke sumur, menimba air untuk cuci tangan dan muka. Setelah itu aku membuka lemari makan, mencari makanan ringan yang bisa dijadikan pemanasan bagi pencernaanku. Wah, selain gorengan ada pisang ambon juga, lumayan nih. Aku merebahkan diri di kursi, menemani yang sedang asyik menatap layar kaca sambil makan gorengan dan minum es teh. Segar sekali rasanya, saat lelah dan panas seperti ini minum es teh. Berkali-kali aku mengisi ulang es teh ke dalam gelasku. Kebetulan acaranya juga cukup asyik, tayangan komedi.

Seperti biasa, jika aku pulang malam pasti bawaannya lelah dan ngantuk. Hingga biasanya beberapa kegiatan di malam hari yang sudah direncanakan dari kampus, misalnya mengerjakan tugas, mengetik dan sebagainya, gagal dikerjakan. Menyesal-menyesal ketika paginya; duh... kenapa tadi malam aku tidur ya? Padahal tidurnya ketika duduk-duduk di kursi, beristirahat sejenak melepas lelah sambil menonton televisi. Mestinya disebabkan menonton televisi itu kemudian ketiduran, padahal harusnya kan menyegerakan mengerjakan hal-hal yang perlu dulu. Yaah ... mungkin jiwa suka menunda pekerjaan masih kental dalam diriku.

Entah kenapa acara televisi tiba-tiba berubah menjadi film action. Tokoh utamanya ternyata diperankan salah satu aktor favoritku, Jackie Chan! Wah, keren. Yang ini sepertinya belum pernah nonton nih. Biasanya film yang diputar di televisi sering diulang-ulang beberapa kali, sampai hafal jalan ceritanya. Kalau yang kulihat ini, sama sekali belum pernah ditayangkan, atau paling tidak, aku belum pernah menontonnya di televisi. Bagus sekali aksi jagoanku itu. Cool! Di awal film sudah memulai eksyen dengan ’memamerkan’ kegesitan dan kelincahannya, bagaimana nanti ketika klimaks, pasti lebih keren lagi.

Begitu iklan, aku langsung lari menuju ruang makan. Mengambil piring, nasi, sayur dan lauk. Setelah itu lari lagi ke depan televisi. Pokoknya tidak mau ketinggalan film itu, sudah seru, pemerannya aktor favoritku lagi. Kutonton film itu sambil makan malam.

Hampir tak kusadari bahwa ternyata aku menonton televisi sendirian. Lho, ke mana yang lain?? Tadi, rasany ibu dan kakak kut menonton, tapi sekarang kok tiba-tiba tidak ada? Aku sedikit bingung. Namun, serunya film membuat pikiranku lebih fokus menikmati jalannya cerita. Bener-bener keren, cerita maupun aksinya. Tapi ... masya Allah, apa ini benar?? Di dalam film itu Jackie Chan memerankan tokoh muslim. Jackie sholat!!

Aku mulai dapat mengikuti jalinan cerita film itu. Film itu berkisah tentang seorang perantauan muslim Cina di negerinya Paman Sam. Santernya isu terorisme dengan tuduhan muslim sebagai pelakunya membuat warga muslim di Amerika selalu dirongrong keselamatannya. Mereka dicemooh, dihina, dimarjinalkan bahkan tak jarang dianiaya atau dirusak barang miliknya. Tokoh kita termasuk yang menjadi korban. Tapi bedanya, dia berupaya melawan segala upaya terorisme yang sebenarnya kepada warga muslim, yang ternyata ada konspirasi di balik itu semua.

Jackie, yang di dalam film bernama Zaki berupaya menguak penyebab dan pelaku peristiwa-peristiwa itu. Siapa dalang di baliknya. Kalangan musuh sering kewalahan menghadapi ulah Zaki. Sehingga mereka pun tak segan-segan mencari data lengkap dirinya, dan menyewa agen rahasia yang super ahli bela diri untuk meringkus Zaki.

Adanya beberapa kejadian, membuat Zaki mulai menyadari situasi yang sebenarnya, bahwa ada rekayasa untuk menghancurkan umat Islam di Amerika. Dugaan itu diperkuat dengan ditemukan olehnya beberapa bukti. Namun, Zaki tidak menyadari bahwa ada orang yang akhir-akhir ini selalu mengintai dan menguntitnya. Suatu ketika, saat dia kembali memperoleh fakta dan bukti, tiba-tiba ada yang memukul tengkuknya dari belakang. Seketika itu juga dia pingsan.

Ketika Zaki sadar, dia sudah berada di dalam kurungan tahanan bersama beberapa orang lain. ”Alhamdulillaah, kamu sudah sadar Saudaraku,” kata salah satu penghuni sel tahanan itu, seorang lelaki setengah baya.

Zaki mengamati sekelilingnya, ”Di ... di mana aku?”

“Kita berada di Guantanamo ... “ sahut laki-laki itu.

“Guantanamo??” Zaki kaget.

Tiba-tiba sipir penjara bersama beberapa orang berbadan besar mendekati sel itu. Mereka membuka pintu sel tahanan dan mengeluarkan Zaki dengan paksa. Di antara mereka ada yang membawa pentungan pula. Mereka menari-nari sambil tertawa mengejek.

”Sebaiknya kita apakan nih, cecunguk ini?” Salah satu dari mereka membuka pembicaraa, yang dari situ jelas sudah maksud mereka mau apa.

”Apa sajalah, yang jelas, kita jadikan pembuka latihan kita pagi ini.” Pembuka latihan kata mereka?

”Ah, sayang sekali. Tadi malam dia masih pingsan. Kalau tidak, malam pertamanya di sini harusnya menjadi malam terindah baginya, yang tak akan dia lupakan selama hidupnya. Ha...ha....ha.....” Yang sedang membawa pentungan tertawa menjijikkan.

”Biarlah. Itu rejekinya. Sebagai gantinya, kita buat pagi ini adalah pagi yang paling indah baginya. Ha...ha...ha...” sahut yang lain. Tiba-tiba, bukk!! Perut Zaki disodok dengan kepalan tangan besar itu. Zaki menunjukkan muka menahan sakit, tapi tetap dia upayakan tegar. Pukulan itu disusul dengan pukulan lain di pipi kiri. Duag!!

Setelah itu, mereka bergiliran mempraktekkan gaya-gaya wrestling mereka. Tingkah mereka mirip aktor-aktor gulat dalam tayangan WWF Smackdown. Dengan riang mereka mempermainkan Zaki sebagai sasaran mereka. Bantingan, kuncian, pukulan. Bahkan ada yang mengeluarkan supplex, suatu teknik bantingan dengan menjatuhkan diri ke belakang, dengan terlebih dahulu mengangkat lawan dari belakangnya! Teknik bantingan ini menjadikan kepala bagian belakang dan punggung lawan sebagai sasaran aduan dengan lantai.

Selanjutnya .... aku tidak bisa melihat dengan jelas. Rasanya ngantuuk sekali. Kantuk mulai kurasakan sejak aku selesai makan malam, dan sekarang tampaknya mencapai puncaknya. Kuusahakan memicingkan mataku, tapi sia-sia saja. Serangan kantuk ini tak tertahankan. Dan ....

Kini aku berada di jalan depan rumahku. Di sebelah selatan, sawah terbentang luas dengan tanaman padi nan menghijau. Di beberapa arah pandangan, tampak gerombol-gerombol pepohonan. Pepohonan di kampung lain. Jauh di selatan, pegunungan kidul yang membentang dari timur ke barat, hijau tua kebiruan. Dalam keadaan biasa, aku bisa menyebut pemandangan di sebelah selatan desaku adalah salah satu pemandangan terindah yang pernah kulihat. Namun sekarang rasanya sangat berbeda. Meski masih terasa keindahannya, namun keindahan yang mencekam. Langit gelap tertutup awan hitam nan tebal. Di beberapa bagian mendung tampak berwarna kemerah-merahan merekah. Langit serasa mau runtuh. Kilat berkali-kali menyambar bagai cambuk listrik raksasa.

Di kaki langit sebelah selatan, awan hitam turun perlahan. Turun dengan bentuk kerucut terbalik. Mula-mula besar, makin dekat ke permukaan bumi makin kecil dan runcing. Terjadilah sebentuk benda vertikal yang bergoyang-goyang, meliuk-liuk bagai sedang menarikan tarian maut. Makin lama makin jelas bentuknya, seperti kerucut dengan ujung di bawah, ramping, berwarna hitam. Dari ujungnya tampak sesuatu seperti beterbangan ke atas. Masya Allah, jangan-jangan itu .... angin puting beliung!!

Aku berteriak sekeras-kerasnya ”Angin puting beliuuung!!”. Aku berlari ke dalam rumah untuk memberitahu semua bahwa ada angin puting beliung yang bergerak dari selatan. Semua anggota rumah berhamburan keluar untuk melihat sudah sejauh mana dia bergerak, jika mulai mendekat maka semua harus segera menyelamatkan diri.

Sesudah kami keluar .... ternyata memang angin itu semakin besar. Meski jaraknya masih cukup jauh, beberapa kilometer di selatan namun kami waspada. Beberapa benda penting disiapkan untuk diselamatkan. Aku pernah mendengar, bahwa angin seperti ini kecepatan geraknya bisa mencapai sekitar tigapuluh kilometer per jam. Itu berarti, jika angin itu bergerak ke utara, dengan jarak sekitar enam kilometer ini dalam sepuluh hingga duabelas menit angin itu akan menghancurkan kampung kami.

Dari jauh tampak benda-benda beterbangan bak anai-anai yang berhamburan. Tersedot ke atas, seperti penyedot raksasa yang membawa ke dunia lain yang gelap. Aku membayangkan ada yang mengendalikan penyedot raksasa itu untuk membersihkan kotoran-kotoran di muka bumi. Kotoran yang disebabkan ulah manusia yang tidak taat pada Tuhan mereka. Atau kotoran itu justru manusia-manusia itu sendiri, yang telah punya sesembahan-sesembahan baru, yang telah mengesampingkan Tuhan yang sebenarnya demi kepuasan syahwat keduniawian mereka.

Beberapa menit kemudian, tarian hitam yang mengerikan itu sudah berangsur-angsur menghilang. Sekarang digantikan dengan kilat dan guntur yang semakin menggelegar. Hujan pun mulai turun. Mula-mula rintik-rintik tapi makin lama makin deras. Butir-butir air yang besar menerpa permukaan bumi dan segala apa yang ada di atasnya, membekaskan rasa panas di kulitku. Kami segera beranjak untuk masuk ke rumah, berlindung dari guyuran hujan.

Sebelum sampai di pintu, aku lihat pendar pantulan cahaya merah di dinding. Apa ini? Aku segera menoleh ke arah selatan. Itu ... Belum selesai aku berfikir ketika melihat kilatan benda berwarna merah meluncur sangat cepat ke bawah, terdengar suara berdegum keras. Jlegguur! Belum hilang bekas lintasan benda itu berupa garis kemerahan, suara itu segera disusul dengan goncangan yang hebat. Serasa tanah yang kuinjak ini mengajakku meloncat-loncat. Kami berteriak ”Allaahu akbar ... Allaahu akbar ... Allaahu akbar!!” beberapa kali. Para penduduk berteriak panik.

Goncangan gempa hanya terjadi beberapa saat, namun sangat keras, dibarengi suara berderak. Beberapa rumah tetangga roboh!! Alhamdulillaah, rumahku selamat. Beberapa saat kemudian kuarahkan mataku kembali ke arah selatan. Masih cukup jelas bekas lubang merah di awan hitam sebelah selatan, bekas benda jatuh tadi. Tapi sebentar, apa itu, warna putih menyelimuti pegunungan?

Aku mencoba berfikir, tadi ada benda merah meluncur ke bawah, disusul suara berdentum keras. Tidak mungkin! Jangan-jangan tadi itu meteor yang jatuh di laut selatan, lalu menimbulkan goncangan hebat. Bila sumber goncangan ada di laut, ditambah daya jatuh meteor tadi, pastinya menimbulkan gelombang tsunami yang besar. Gila!! Jangan-jangan, yang menyelimuti pegunungan itu ... air!! Astaghfirullaah, apakah kiamat sudah terjadi sekarang ya Allah ...?

Tanpa sadar bibirku bergumam, ”Ya Allah, ya Rabbi. Itu ... tsunami yang sangat besar. Apa kiamat telah benar-benar terjadi, ya Allah? Ataukah ini hanya bencana biasa dari-Mu sebagai peringatan bagi kami yang sering melupakan-Mu?” Kakakku yang berada di sampingku agaknya mendengar gumamanku.

”Apa kamu bilang? Itu tsunami?? Sebesar itu? Berarti tidak lama lagi airnya akan sampai di tempat kita. Ayo menyelamatkan diri!!” ajaknya.

Segera saja ada orang yang meneriakkan ”tsunami!!”. Maka spontan semua warga berlari dengan paniknya. Ada yang masih membawa piring, macam-macam barang yang sedang dipegang saat goncangan masih ada di tangan. Tanpa sadar, karena saking paniknya, mereka bawa lari. Bahkan ada yang sedang mandi, harus lari meski belum berpakaian lengkap.

Hampir tiap orang lupa akan keadaannya. Yang ada di pikiran hanya lari menyelamatkan diri, lari ke arah tempat yang tinggi. Tiap orang tampaknya memiliki tujuan yang sama, Bukit Gunung Buntung. Mungkin aku menjadi salah satu dari beberapa orang yang masih memiliki kontrol kesadaran. Kucoba menyatroni desa, siapa tahu ada yang belum sempat lari menyelamatkan diri. Sok pahlawan sekali aku. Akibatnya aku yang paling akhir berupaya menyelamatkan diri. Padahal, ketika aku melihat ke arah selatan, air tinggal beberapa ratus meter dariku.

Kupercepat lariku, namun rasanya kecepatan lariku justru melambat. Aduh, kenapa lagi kakiku ini? Aku berupaya menambah kecepatan lagi, tapi tetap justru makin perlahan, seperti tayangan ulang dalam gerak lambat. Kulihat sekeliling, sudah tidak ada manusia satu batang hidung pun. Tinggal aku sendiri! Aku menoleh ke belakang, air bah yang dahsyat beserta barang bawaannya tinggal beberapa puluh meter. Aku mempercepat lari, tapi seperti sebelumnya, lariku malah semakin lambat. Tak ayal lagi, jelas aku tidak kuasa menandingi kecepatan arus air yang luar biasa cepatnya. Gelombang air itu tinggal beberapa meter dariku dan ....”aaaa.....!!!”

Tes! Tes! Tes!

Tetesan air di hidungku membuatku terjaga. Astaghfirullaah ... ternyata cuma mimpi. Aku mendengarkan rintik hujan di atas genting rumahku. Aku merasakan air menyentuh kakiku yang berada di lantai. Ketika ingat bahwa saat hujan sering terjadi bocor, aku mulai sadar sepenuhnya dan melihat sekeliling. Astaga! Kulihat bapak, ibu dan kakak berlarian sambil membawa ember, untuk menadah air yang masuk dari genting yang bocor. Talang air pun tampaknya tidak mampu menampung air, biasanya karena tersumbat sampah, sehingga air tumpah dan masuk ke rumah.

Aku segera meloncat untuk membantu. Kuambil karung goni untuk menahan air supaya tidak menyebar ke mana-mana. Ayah menyapu air dengan sapu lidi, membuangnya keluar. Ember yang sudah penuh segera dibuang airnya. Memang serepot itu jika talang air penuh dan airnya tumpah. Tapi tampaknya usaha kali ini sia-sia saja. Bukannya air bisa dibuang keluar, namun sekarang justru air dari luar rumah masuk ke dalam. Ketika kami melihat keluar rumah, mengecek kondisi sekitar ternyata halaman rumah sudah tergenang air!

Aku bingung, dari mana air-air ini? Setahuku rumah dan desa kami tidak berada di dekat sungai besar, tapi mengapa sampai ada genangan air segini banyaknya? Seperti tanda-tanda terjadi banjir. Tapi sekali lagi .. air dari mana??

Benar saja, beberapa saat kemudian air pun segera meninggi. Kami segera berupaya menyelamatkan benda-benda yang cukup berharga untuk diletakkan di tempat yang lebih tinggi. Kami baru dapat menyelesaikan pekerjaan itu saat air sudah setinggi di atas lutut. Dan ternyata ketinggian air semakin bertambah dengan cepat. Saat air mencapai setinggi selangkangan orang dewasa ....

Aku membuka mataku. Astaghfirullaah, ternyata ini juga mimpi. Tapi... rasanya ada yang beda deh. Kuraba-raba celanaku. Basah. Kucium bau air itu. What?? Ini bukan air biasa… air ini berbau. Jadi, aku....... Whuaaa…..!! ***


Malam Kamis, 14 Februari 2007
Tidak diambil dari kisah nyata.

PS: Eh, malam-malam jangan kebanyakan minum es teh! :D

Bagikan

--- 4 Komentar ---

Eno Karta Susana | Guru
Subhanallah... KSC bisa dijadikan sebagai sarana kreativitas, nambah ilmu, dan mempererat tali silaturrahim. Tapi tetap kita harus berusaha menjaga niat. Semoga bermanfaat. Aamiin...
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0384 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels