HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
Alamat Akun
http://las_tri.kotasantri.com
Bergabung
31 Mei 2011 pukul 10:59 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Staf Admin dan Mengajar
Catatan Izzatul Lainnya
Memandang Cinta Dari Cermin Hati
25 Juni 2011 pukul 13:53 WIB
:: Pohon Berduri ::
19 Juni 2011 pukul 22:49 WIB
Sabarlah, Kita Akan Kembali Pada-Nya
9 Juni 2011 pukul 11:06 WIB
Menghitung Harga Nafas Kita
1 Juni 2011 pukul 17:33 WIB
Catatan
Kamis, 7 Juli 2011 pukul 20:32 WIB
:: Untuk Isteri-isteri para Pejuang ::

Oleh Izzatul Muthmainnah

Jangan pernah meninggalkan perjuangan di jalan ALLAH. Betapa seluruh hajat hidup seharusnya bertumpu pada kepentingan perjuangan di jalan ALLAH termasuk menikah, berkeluarga, bersuami isteri. Inilah tren pernikahan yang seharusnya kita pertahankan. Wallahu a'lam...

Buat manusia istimewa dalam hidup ini... dan juga isteri-isteri pejuang... serta bakal isteri seorang pejuang...

Isteriku...
Apabila kusentuh telapak tanganmu
Saat kuusap dan kurasakan guratannya
Kudapatkan parutan kasar dan semakin kasar
Dan ketika kupandangi wajahmu
Terpancar sinar bahagia dan ketenangan walaupun kutahu
Redup matamu menyimpan satu rintihan yang memberat
Ketika kutersentak dari pembaringan di kala fajar kadzib menyingsing
Aku terpana dengan munajatmu yang syahdu


Isteriku...
Tatkala teman-temanmu tengah bersantai, happy fun
Di keramaian dunia ciptaan mereka
Engkau bahagia mengorbankan seluruh detik-detikmu
Hanya untuk Islam dan keagungan muslimin
Tatkala lengan-lengan mereka dibaluti
Berbagai hiasan yang indah
Leher-leher mereka memberat dilingkari dengan kilauan emas berlian
Pakaian-pakaian anggun bak puteri kayangan
Wajah mereka dibaluri pelbagai warna dan jenama
Kau umpama ladang ummah
Kau menginfaqkan seluruh jiwa dan raga demi kebangkitan Islam
Kau tak pernah bersungut-sungut, mengeluh, meminta-minta maupun
mengadu domba
Tatkala mereka berlomba-lomba mengejar pangkat dan nama
Kau sibuk menjulang nama dengan pengaduanmu di sisi yang Esa

Isteriku...
Bukan aku tidak mampu membelikan benda dan hiasan-hiasan tersebut
Tetapi isteriku...
Aku masih ingat tatkala aku menyuntingmu untuk kujadikan isteri dan penghuni kamar hatiku
Kau melafazkan satu tuntutan, "Saya siap mendampingi perjuangan ini bersama akhi tetapi dengan syarat..." Sambil tersenyum kau menghela nafas dalam-dalam...Aku termangu sendirian... Syarat apakah itu? Bungalow kah? Hamparan tanah berhektar-hektar kah? Mobil mewahkah? Intan berliankah? Pakaian sutera yang high class? Perabot mahal dari Itali kah?... Atau honeymoon di Paris ?...
Lama kau mengumpulkan kekuatan untuk sekedar berkata...

Akhirnya...
Hm... Permintaanmu itu...
Pasti ditertawakan oleh kerabat dan teman-teman kita
Aku tergugu, haru dan bangga
Dengan penuh keyaqinan kau berkata
"Akhi , Mampukah akhi menjadikan saya sebagai isteri yang
kedua ???
Mampukah akhi menjadikan Islam sebagai isteri pertama yang lebih memerlukan perhatian???
Mampukah akhi meletakkan kepentingan Islam melebihi segala-galanya termasuk urusan-urusan dunia???
Mampukah akhi menjual diri semata-mata karena Islam???
Mampukah akhi berkorban meninggalkan kelezatan dunia???
Mampukah akhi menjadikan Islam laksana bara api???
Akhi perlu menggenggamnya agar bara itu terus menyala
Mampukah akhi menjadi lilin yang rela membakar diri untuk Islam???
Bukannya seperti lampu pijar yang bisa di'on'kan bila perlu dan di'off'kan bila tidak
Mampukah akhi mendengar hinaan yang bakal dilontarkan kepadamu karena perjuanganmu???
Dan...
Mampukah akhi menjadikan saya isteri seorang pejuang yang tidak dimanja dengan fatamorgana dunia???

Aduh! Banyaknya syarat-syarat itu isteriku...
Namun aku menerima syarat-syarat tersebut karena aku tahu
Jiwamu kosong dari syurga dunia
Karena aku tahu kau mampu mengubah dunia ini dengan iman dan akhlaqmu
Bukannya kau yang diubah oleh dunia

Isteriku...
Akhirnya jadilah engkau penolong setiaku sebagai nakhoda mengemudi bahtera kehidupan kita
Susah senang kita tempuh bersama
Aku terharu dengan segala kebaikanmu
Kau jaga akhlaqmu
Kau pelihara maruahmu selaku muslimah
Kau tak pernah mengeluh apabila sering ditinggalkan demi tugasku menegakkan Islam ke persada agung
Kau jua sanggup mengekang mata menungguku sambil memberikan aku suatu senyuman terindah di ambang pintu tatkala aku pulang lewat malam
Malah kau seringkali meniupkan semangat untuk aku terus tsabat di pentas perjuangan ini
Kau tabur bunga-bunga jihad walaupun kita masih jauh dengan keharuman kemenangan

Isteriku...
Tangkasnya engkau selaku isteri
Biarpun kau jua sibuk bersama mengorbankan tenaga dalam perjuanganku ini
Kau jaga relasi kita dengan indahnya
Kau siraminya dengan wangian cinta dan kasih sayang
Kau tak pernah menjadikan kesibukanmu itu untuk kau lari dari amanahmu meskipun jadwalmu padat dengan agenda-agenda bersama masyarakat dan kaum sejenismu
Cekalnya engkau mendidik anak-anak
Kau kenalkan mereka dengan ALLAH, Rosulullah, para shahabat yang mulia serta para pejuang Islam
Kau titipkan semangat mereka sebagai generasi pelapis jundullah
Kau asuh mereka hidup dengan Al-Qur'an
Malah kau temani mereka mengulangkaji pelajaran dikala menjelang imtihan

Isteriku...
Barangkali inilah pelajaran dari ustadzah Zainab Al Ghozali
Tangan yang mengayun buaian dapat mengguncang dunia
Kau beri didikan dua generasi sekaligus, generasi kini dan generasi kan datang

Suamimu dan anak-anakmu dengan MAHABBAH
Andai ibunda Khodijah Al Kubra masih ada
Pasti beliau tersenyum bangga karena masih ada srikandi Islam
sepertimu...
Wahai isteriku...

Bagikan

--- 0 Komentar ---

Ibu Hafif | Ibu RT
Webnya www.kotasantri.com bagus euy.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0282 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels