HR. Muslim : "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu."
Alamat Akun
http://ila.kotasantri.com
Bergabung
16 Maret 2009 pukul 18:56 WIB
Domisili
Semarang - Jawa Tengah
Pekerjaan
traveller
http://ilarizky.blogspot.com
http://facebook.com/ila.rizky
Catatan Ila Lainnya
Love at the first sight! ^^
1 Februari 2010 pukul 15:37 WIB
Ketika setiaku harus berbilang waktu
1 Februari 2010 pukul 15:28 WIB
Telaga yang kutemukan di bening matamu
25 Januari 2010 pukul 12:26 WIB
Membangun sekolah peradaban di rumah kita
25 Januari 2010 pukul 12:20 WIB
Catatan
Senin, 1 Februari 2010 pukul 15:27 WIB
Takdir yang lain

Oleh Ila Rizky Nidiana

Takdir yang lain

“Allah memalingkanmu dari takdir yang satu ke takdir yang lain, yang dengannya Ia bermaksud memberimu sayap , ya... tak hanya satu, tapi sekaligus sepasang, agar kau dapat terbang lebih cepat.”

Hei... jangan bengong begitu melihat tlsn di pembuka diatas yeee. :P

Itu hanya pemanasan aja kok.. :D

Btw, sering sekali kita hanya mengaitkan tlsn di atas tadi sebagai representasi dari sebuah takdir, mungkin, kisah percintaan anak manusia yang sering diselipi berbagai macam bumbu. :D Ada bumbu semur, rendang, opor, pecak, dll.. :P (Hehe..becanda kok...^^ ). Tlsn ini tidak ada hubungannya dengan lopeee lopeee ... (baca : Love = Cinta?) , jadi buat yang suka mewe2, sante aja yaaa...:D

Nah, skrg masuk ke pokok permasalahan yang akan dibahas. Sebuah representasi atas takdir, sering kali picik hanya dikaitkan dengan bumbu cinta, padahal sesungguhnya, takdir sendiri meliputi segalanya. Ya, segala hal yang ada dalam hidup kita. Lalu, apa yang akan saya bahas sekarang?

Takdir sering dikaitkan dengan misteri ttg rizki, kehidupan, kematian, dan tentu saja tak lupa... jodoh. ^_^

Lalu, yang ingin saya bahas disini adalah, kebaikan Allah dengan memberi kita takdir yang lain.

Kali ini, saya ingin memintamu untuk sejenak mengaitkan ttg takdir ini dengan sebuah fenomena dalam masyarakat akhir-akhir ini. Ya, kali ini ttg fatwa haram merokok dari MUI.

Lalu, apa hubungannya dengan takdir yang lain yang sedang saya bahas?

Merokok bagi masyarakat telah menjadi budaya yang tak bisa terlepas begitu saja. Hal ini karena bagi sebagian orang yang saya temui dan survei -secara tanpa sengaja-, mempunyai berbagai macam alasan untuk tetap memepertahankan budaya merokok yang telah menjalar dalam urat nadi mereka selama ini.

Dari sekedar alasan ingin menghilangkan stress, pelampiasan hobi, terbawa arus pergaulan sehingga ingin dikatakan GENTLE, lalu, sampai pada taraf kecanduan, karena jika tidak merokok tidak nikmat. Hmm... Ada yang bisa menambahkan alasan yang lain? :D

Lalu, mengapa saat ini MUI yang notabene sekelompok ulama, tegas melarang masyarakat –dalam hal ini masyarakat Indonesia- untuk tidak merokok?

Jika saya katakan bahwa merokok itu haram? Apa engkau tahu alasan kenapa itu terjadi?

Ya, karena menurut saya pun, merokok merupakan hal paling konyol yang dilakukan oleh orang berakal. Kenapa saya berkata begitu? Karena sesungguhnya tanpa sadar, perokok itu sendiri telah meracuni dirinya dengan berjuta-juta zat berbahaya yang ada dalam sebatang rokok yang ia hisap dengan nikmat.

Ah, kenikmatan yang melenakan, karena sejatinya, sebatang rokok itulah yang akan membawanya ke dalam sebuah takdir yang mengerikan.

Bertahun-tahun kemudian, baru disadarinya ketika zat berbahaya (bukan hanya nikotin saja, tapi ada yang lain, bisa dicek disini ttg rokok laboratorium paling berbahaya) telah bereaksi amat keras terhadap dirinya. Paru-parunya yang indah sekarang telah menjadi bernoda. Dan menjadikan ia pesakitan tanpa daya. Lalu, bisakah sekarang sang pesakitan tsb dikatakan GENTLE? Hmmm... miris nian ya?

Sesungguhnya, ketika suatu kali, Dia memalingkan kita kepada takdir yang lain, Ia ingin memberi sebuah pembelajaran baru yang akan menjadikan kita sebuah makhluk yang lebih bersyukur.

Lalu, jika kita berpaling dari takdir yang satu, dalam hal ini, takdir menjadi seorang perokok (atau kalo pengen lebih elegen sih, pake istilah, penikmat nikotin :P), menuju takdir baru, menjadi seorang yang lebih sehat , jiwa dan raga, maka kenapa kita tak memenuhi ajakan kebaikan itu? Atau kita terlalu GENGSI untuk menuju takdir yang lain, yang pastinya lebih menjanjikan kehidupan yang dinamis dan sejahtera?

Tata ulang cara berfikir kita, mana yang lebih baik? Takdir menjadi pecandu nikotin, atau menjadi manusia sehat?

Anggap saja saya sedang ngoceh tak karuan jika tiba2 ada yang tanya dengan lantang,

“Trus, gimana dong dengan nasib para petani tembakau atau para pekerja yang bekerja di pabrik rokok? Bagaimana nasib mereka nantinya jika pabrik ditutup dengan semena-mena tanpa tedeng aling-aling memikirkan nasib mereka sesudah di PHK secara massal? Sedang kini, mencari penkerjaan begitu sulit.”

Are you sure? Yakin nggak sih dengan janjiNya? Yang garansinya tiada banding?

Jika saya ubah kata-kata pembuka tadi dengan kalimat ini,

Allah memalingkanmu dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lain, yang dengannya Ia bermaksud memberimu rejeki , ya... tak hanya satu, tapi sekaligus banyak tak terkira, ya... sebanyak yang Ia mau, agar engkau mendapat penghidupan yang lebih bermutu dan barakah.

Jadi, ketika itu menjadi pemikiran kita sekarang, sejauh mana kita yakin dapat memalingkan diri kita dari takdir yang satu menuju takdir yang lain, takdir yang lebih baik, maka itu menjadi garansi sesungguhnya. Jadi, siap berubah, guys?

Sesunguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (Q.S. 13:11)


Kamar Cahaya, 26 Februari ’09, 21: 52, menjawab pertanyaan Dek Yulia, Afwan kalo belum pas jawabannya yaa... ^^ Silahkan dikomentari, Yukk Mariii... :D
~Sesungguhnya, Allah sebaik-baik persangkaan hambanya, dan aku percaya itu!~

Bagikan

--- 0 Komentar ---

Akhmad Muhaimin Azzet | Penulis
Membaca-baca di KotaSantri.com, di samping memetik motivasi dan inspirasi, betapa terasa damai di dada. Sungguh. Beginilah bila akhlak mulia yang dijunjung dan dijaga. Alhamdulillah...
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0360 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels