HR. Ahmad : "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya."
Alamat Akun
http://ila.kotasantri.com
Bergabung
16 Maret 2009 pukul 18:56 WIB
Domisili
Semarang - Jawa Tengah
Pekerjaan
traveller
http://ilarizky.blogspot.com
http://facebook.com/ila.rizky
Catatan Ila Lainnya
Love at the first sight! ^^
1 Februari 2010 pukul 15:37 WIB
Ketika setiaku harus berbilang waktu
1 Februari 2010 pukul 15:28 WIB
Takdir yang lain
1 Februari 2010 pukul 15:27 WIB
Telaga yang kutemukan di bening matamu
25 Januari 2010 pukul 12:26 WIB
Membangun sekolah peradaban di rumah kita
25 Januari 2010 pukul 12:20 WIB
Catatan
Senin, 1 Februari 2010 pukul 15:29 WIB
Never Ending Ta’aruf... =P (Endless Love pokona mah.. hihi..)

Oleh Ila Rizky Nidiana

Never Ending Ta’aruf... =P
(Endless Love pokona mah.. hihi..)

Mereka berjalan dalam keremangan sinar bulan. Bayangan pepohonan membuat suasana jadi seram. Untung ada beberapa titik bintang di langit dan sebaris malaikat yang mengusir setan dengan panah-panahnya.

“Mas, aku masih lemes... Jalannya pelan aja, ya...”
“Semalam begadang, ya?”
“Iya, ngobrol sama ibu sampai jam satu.”
“Pasti ngomongin aku.”
“Ih, siapa yang ngomongin Mas? Kegeeran! Tapi, iya juga dikit. Hehehe...”
“Ya sudah, sini kugendong. Berat badanmu nggak nambah, kan?”
“Ah, Mas bercanda!”

Ternyata Ryan tidak bercanda. Ia benar-benar melakukannya. Rani terpekik senang. Jarang ada momen seperti ini. Biasanya, Ryan akan menggendongnya kalau ia ketiduran di ruang tengah atau di studio. Ketika bangun, tahu-tahu sudah tidur dalam pelukan Ryan.

(Rani bisa merasakan detak jantung Ryan yang berdebaran. Ia suka detak jantung itu. Detak jantung yang suka ia dengarkan jika sedang lelah atau sedih. Ryan selalu menyediakan dada atau bahunya untuk sekadar bersandar, kapan pun ia butuh.)

“Mas, kalau aku ketiduran, bangunin ya...” Rani berbisik manja.
“Oh, kuceburin ke sawah kalau kamu berani tidur!”
“Coba kalau berani! Ntar Mas dimarahin ibu, lho...”
“Masa sih? Aku kan menantu kesayangan. Paling kamu yang dikira iseng, main-main ke sawah terus kepeleset.”
“Ih!” Rani merengut manja.”Eh, mas, kalau kita berpapasan sama orang, kita bisa dikira maling. Subuh-subuh keluyuran.”
“Kamu kan bisa bela diri. Keluarin dong jurus-jurusmu!”
“Lho, Mas dong yang harus melindungiku.”
“Ya udah, kita berdua kabur aja. Malingnya suruh nyerahin dirinya sendiri ke pihak yang berwajib.”
Rani terkikik. Ryan memang kadang-kadang sangat konyol.

Percakapan lirih itu mereka akhiri ketika sampai di pinggir sungai.
Rani membentangkan tangannya lebar-lebar. Membiarkan udara segar masuk ke paru-parunya. Dulu, waktu masih aktif mengikuti kegiatan dakwah kampus ada kegiatan outbond, ia biasa shalat di alam terbuka. Siang, sore, malam, ataupun dini hari.

(Di atas lempengan batu, di bawah keremangan sinar bulan, dengan backsound suara gemericik air, dalam dinginnya udara dini hari, di tengah dimensi alam yang terbentang luas, mereka ruku dan sujud. Semesta menjadi saksi akan penyerahan diir dua insan kepada Sang Pencipta.)

Momen ini pun mereka gunakan untuk muhasabah. Saling introspeksi. Mereka saling mengungkapkan perasaan yang tak sempat terungkap ke permukaan. Saling mengoreksi kesalahan. Saling menyatakan keinginan demi kebaikan masa yang akan datang.

“Kamu dulu.’
“Sifat jelek dulu atau yang baik dulu?”
“Yang jelek dulu.”
“Mas terkadang masih keras dan kasar.”
Ryan tertawa kecil.”Ya, itu memang sudah watak. Susah diubah. Sekarang sifat baik.”
“Mas Ryan suami yang baik, juga ayah yang baik. Terkadang saya merasa Mas lebih memahami Rifki daripada saya sebagai ibunya.”
“Oh, gitu. Masa, sih?”
“Mas juga lebih serius dalam dakwah, dibandingkan dulu”
“Itu karena komunitas Al Banna. Kehadiran mereka memberi warna tersendiri dalam hidupku.”
“Mas lebih down to earth, lebih membumi. Tidak seboros dulu. Kalau Rani gimana, Mas?”
“Kamu masih agak kekanakan kadang-kadang. Tapi sudah agak berubah, terutama sejak ada Rifki.”
“Saya sering takut tidak bisa menjadi ibu yang baik dan istri yang baik...”
“Kamu pasti bisa.Rani...”
“Iya, Mas...”
“Aku bukan malaikat. Aku hanya manusia biasa yang sangat rentan berbuat salah. Banyak orang bilang aku ini jenius, kaya, dan sebagainya, tapi aku tidak merasakan efek dari semua itu. Aku lebih merasakan bahwa untuk menjadi manusia yang baik sangatlah berat.”
Rani mulai terisak.
“Kalian, kamu dan Rifki, adalah amanahku. Bantu aku untuk menghadapi pertanggungjawabanku di akhirat nanti. Aku mohon kerjasamamu. Karena aku takkan mampu sendirian.”
Mereka berpelukan.
“Ran...”
Rani mendongak.
“Jadikan ini kenangan yang terindah....”

(Dilatasi Memori, Ari Nur. Mizan. Halm. 59-63)
@@@
Kehidupan suami istri adalah perserikatan antara dua orang yang sebelumnya asing. Tidak pernah saling mengenal. Atau, kalau toh ada pengenalan, maka bisa dipastikan ia tiada utuh. Selalu saja ada bilik kosong yang belum kita masuki dari kekasih kita. Selalu saja ada lembar-lembar yang belum kita baca tentang dirinya.

Akhirnya, kita menemukan kenyataan bahwa ada pekerjaan yang tidak pernah berhenti dalam pernikahan. Pekerjaan itu adalah mengenali kekasih kita secara utuh. Akan tetapi, bukanlah pada saat menjelang pernikahan, biasanya telah dilangsungkan proses ta’aruf (perkenalan)? Memang, kadangkala demikian. Hanya saja, proses ta’aruf yang terjadi sebelum menikah, biasanya dilakukan relatif singkat. Keadaan ini menyebabkan terbentuknya gambaran tentang pasangan hidup yang lebih dipengaruhi oleh harapan ideal kita. Informasi yang dihimpun dari banyak pihak terkait dengan calon pasangan kita, lebih banyak berkisar pada kebiasaan-kebiasaan publiknya. Sementara itu, karakter dasar kepribadiannya belum sepenuhnya terungkap.

Proses ta’aruf sebelum pernikahan jelas sangat berbeda dengan proses ta’aruf setelah akad dilangsungkan. Yang pertama lebih banyak melihat ciri-ciri yang menentramkan dan memantapkan pilihan. Belum ada orientasi yang lebih besar selain itu. Saat itu, masih banyak pilihan untuk menentukan kehendak.

Sementara ta’aruf setelah akad lebih berorientasi untuk memberikan perawatan terhadap cinta. Seseorang telah berhadapan dengan kenyataan. Ia tidak lagi dibuai oleh harapan yang membumbung.

Kekasih kita adalah sebuah misteri yang harus dikuak. Cinta selalu menghajatkan pekerjaan kontinum; merawat dan menumbuhkan. Sebelum melakukan semua pekerjaan itu, ada satu proyek yang mendahuluinya, yaitu mengenali secara utuh pasangan kita. Itulah sebabnya ta’aruf dalam pengertiannya yang luas dan tidak formal merupakan pekerjaan tiada henti.

Pengenalan yang utuh akan mendorong kita untuk memberikan penerimaan yang utuh pula. Bahkan, lebih dari itu, pengenalan terhadap kekasih kita pada dasarnya merupakan upaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi dirinya secara tepat.

Setiap penggalan waktu yang dilalui bersama antara suami istri adalah proses panjang untuk saling ta’aruf. Ta’aruf yang berorientasi untuk memelihara cinta. Saat itu, kita tak punya pilihan lain kecuali mempertahankan cinta, bagaimanapun keadaan kekasih kita. Daya tahan kebersamaan itu akan semakin terjaga ketika kita tidak sekedar menyesali kekurangan kekasih kita, tetapi berusaha dengan sabar dan penuh kasih sayang untuk menumbuhkannya.

Kita dapat menggunakan langkah pengamatan untuk mengenali tabiat dan kebiasaannya. Kita bisa menangkap obsesi dan harapannya melalui pikiran-pikiran yang terlontarkan kepada kita. Kita semestinya sanggup mengetahui sesuatu yang ia benci dan senangi dari diri kita, melalui respon yang diberikan. Atau, kita bisa membuka gerbang keterbukaan dengan bertanya secara langsung.

Ta’aruf pasca menikah tidak sekedar mengenali diri kekasih kita, tetapi memungkinkan untuk mengenali keluarga, sahabat, dan juga lingkungan yang membentuknya. Diatas hamparan cinta, kita ingin bermesraan sampai lama. Melampaui batas-batas usia. Menerabas semak-semak penghalang. Dan, di usia pernikahan yang semakin senja, kita ingin melukis cakrawala sambil bercerita tentang sampan nelayan yang kita tumpangi, sanggup menembusi gelombang kehidupan. Bahkan, hamparan itu terus tergelar, membentang hingga negeri akhirat. Di sana kita masih melanjutkan cerita itu bersama kekasih kita. Semoga.

“Aku ingin selalu menjaga dan membersamaimu. Forever in Love.”

Sekaran. 18 Juni ’09. 21:51.
Kala Langit Sekaran bertabur jutaan bintang. Subhanallah...Indaaahhh... Ditemani lagu Dealova-nya Once... ^^
~Kado untuk milad pernikahan Ayah Bundaku yang ke- 22 tahun. Barakallahu yaaa...Semoga Allah tak henti-hentinya memberkahi cinta yang tinggi menggapai Surga.... Amiin... ^_^ ~

Bagikan

--- 0 Komentar ---

Nisya Anisya menyukai catatan ini.
Fariz Aziz | Mahasiswa
Alhamdulillah KotaSantri.com masih ada. Udah 2 tahun nich gak browsing web ini.
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0354 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels