Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://fijri.kotasantri.com
Bergabung
12 Agustus 2011 pukul 08:27 WIB
Domisili
Bandar Lampung - Lampung
Pekerjaan
Pengajar
Saya cuma wanita biasa yg tak ingin biasa-biasa saja. Terlahir sbg anak bungsu dari 4 bersaudara yg berkepribadian plagmatis damai, gak suka ribet apalagi ribut. Seneng dengerin curhatan orang lain & berharap bisa membuat org yg punya masalah bisa tersenyum lagi...
opietalone@yahoo.co.id
http://facebook.com/Konselor Fijriani
http://twitter.com/Fijriopiet
Catatan Fijriani Lainnya
Semoga Ia Tak Pergi Seiring Berlalunya Ramadhan
30 Agustus 2011 pukul 22:28 WIB
Belajar Tak Cukup Hanya di Bangku Sekolah
13 Agustus 2011 pukul 13:36 WIB
Wanita Tangguh,, Where are You??
13 Agustus 2011 pukul 08:44 WIB
Lagi-lagi Kisah Miris di Hari Jumat
13 Agustus 2011 pukul 07:55 WIB
Catatan
Rabu, 30 November 2011 pukul 08:46 WIB
Say No to "TAPI"

Oleh Fijriani

“Selalu ingin berbagi”. Lagi-lagi itulah alasan saya menulis catatan ini..
Bukankah mengungkap rasa tak harus selalu dengan bicara???

Tulisan ini terinspirasi dari ‘curhat’ seorang sahabat yang keluhnya tak pernah tamat, atau dengan kata lain ‘GAK ADA ENDINGNYA’. Ceritanya itu.. itu aja, atau dalam bahasa Lampungnya “ijow-ijow gawoh”, atau dalam bahasa Jawanya “iku-iku wae”, atau dalam bahasa Minangnya “iko ka iko jo lai”, intinya sih sama. (hehe,, yang curhatnya kurang kreatif niihh..) Mencoba menghindari kata ‘bosan’ sihh.. Tapi juga bikin instrospeksi diri. Ini kliennya yang nggak kreatif atau konselornya yang kurang professional ???? (Mikir.com)

Studi kasus sedikit ya… Sebut saja namanya Miss. Je
Singkatnya sihh,, Miss.Je cuma ingin bisa merubah perilaku, sikap dan pola pikirnyanya yang menurutnya ‘kadang-kadang’. Kadang-kadang ia punya semangat tinggi, ia yakin ia bisa sukses, ia bisa melakukan apa yang ia inginkan, ia juga yakin bisa mewujudkan apa yang ia cita-citakan. Ia bahkan bisa dengan menggebu-gebu menceritakan perencanaan kehidupannya yang ‘sangat matang’ menurutku. Sayangnya,, semua itu cuma kadang-kadang. Karena kadang-kadang juga, semua semangat dan keyakinannya tiba-tiba hilang, se-ke-ti-ka sebelum aplikasi. Dan suatu saat nanti,, entah dari arah mana, semangat dan keyakinan tentang dirinya itu bisa muncul kembali. Hemmhh,, kok bisa ya?? Muncul tanda tanya besar dalam pkiran saya. Selidik punya selidik akhirnya analisa sederhana saya berujung pada sebuah kesimpulan. Maka, bukan mengenai Miss. Je yang ingin saya bahas di sini. Saya justru ingin mengajak semua mencoba menganalisa dari sisi lain. Ini tentang makna kalimat yang terungkap selama proses komunikasi dengan Miss. Je. Coba cerna beberapa kalimat Miss.Je yang sempat terekam dalam memori otak saya.

“Saya yakin saya bisa!! Tapi,, kadang saya kurang percaya diri..”
“Iya.. Saya harus selesaikan tugas itu malam ini juga !! Tapi,, kenapa males ya..”

Itu baru dua contoh kalimat yang terucap dari mulut Miss.Je. Setelah sebelumnya ia mengungkapkan panjang lebar mengenai berbagai hal yang ingin dan yang akan ia lakukan. Coba baca kalimat tersebut sekali lagi dan pahami maknanya. Dimana letak kesalahannya?? Yupp,, kesalahannya terletak pada kata TAPI setelah kalimat pertama. Tepatnya, kata TAPI setelah kalimat positif. Seharusnya tak ada kata TAPI setelah kalimat positif karena hanya akan melemahkan. Sekarang kita ambil contoh kalimat sederhana lainnya..

“Miss. Je memang cantik siih,, tapi… dia malas”. (tolong dibaca dengan ekspresi wajah yang tepat ya…)

Kata ‘cantik’ adalah kata positif. Tapi maknanya bisa terabaikan karena ada kata negatif ‘malas’ setelah kata TAPI. Jelas fokus kita ada pada kata ‘malas’ dan ekspresi wajah kita bisa di pastikan di akhiri dengan kerutan di kening. Kita tidak lagi memikirkan kata ‘cantik’ tapi pikiran kita didominasi kata ‘malas’. Coba, sekarang kita balik posisi kata-kata tersebut, menjadi ..

“Miss. Je memang malas siih,, tapi… dia cantik”

Sekarang, bukankah fokus kita ada pada kata ‘cantik’ ?? dan ekspresi wajah kita pasti diakhiri oleh ‘senyuman’. Itulah sugesti kata TAPI. Penggunaan kata TAPI diiringin intonasi yang pas akan menghapus penekanan kata sebelumnya menjadi penekanan kata sesudahnya. Luar biasa !!! Sangat menarikkan??? Hanya dengan membalik penempatan kata setelah kata TAPI,, makna yang tertangkap oleh pikiran kita jadi berubah. Sekarang, kita coba membalik kalimat yang pernah diungkapkan oleh Miss.Je sebelumnya.

“Saya kurang percaya diri,, tapi.. saya yakin saya bisa!!” dan
“Kenapa males ya?? Tapi.. Saya harus selesaikan tugas itu malam ini juga!!”

Gimana??? Ruhnya bedakan?? Jadi lebih enak toohh..??
Hanya dengan mengubah posisi kata atau kalimat, makna yang ditangkap oleh pikiran kita akan berubah. Lalu, pikiran akan mempengaruhi sikap kita. Pikiran kita yang positif akan mempositifkan sikap kita, sehingga perilaku yang dihasilkan pun akan positif,, Insya Allah…

So,, the conclution is...
Positifkan pikiran kita terhadap segala hal yang ada di sekitar kita. Hindari kata TAPI setelah pikiran positif terlintas di benak kita, dan pastikan ada kata TAPI setelah pikiran negatif menghantui kita.
Ingat,, salah kita dalam menentukan langkah akan mengubah total arah jalan hidup kita.
Berhati-hatilah terhadap apa yang kita pikirkan, karena apa yang kita pikirkan.. itu yang akan terjadi. Bukankah,, Allah sesuai dengan prasangka hambaNya??

Allahualam bissawab..
Saya sangat menyadari bahwa sempurna hanya milik Allah.. Maka tak ada kata ‘wajib’ untuk meyakini bahwa semua ini adalah benar. Tapi tak akan bermanfaat jika apa yang saya sampaikan tidak dicoba untuk dipraktekkan dan untuk dirasakan perubahannya. Tafadol….

Bagikan

--- 2 Komentar ---

Fay Ahmed | Blogger
Senang sekali baca-baca di KotaSantri.com. Nambah pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0335 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels