Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://akhiwiedz.kotasantri.com
Bergabung
10 Juli 2009 pukul 05:47 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
mahasiswa
Seorang anak yang terlahir didesa yang terpencil. Merantau dalam rangka menuntut ilmu. Punya harapan yang besar untuk membangun umat kelak dengan menjadi orang yang bermanfaat.
http://www.wahidunnaba.multiply.com
widodo@sdm-iptek.org
wiedz wonogiri
akhiwiedz
Catatan Akhiwiedz Lainnya
Sejenak..bertanya pada diri..
4 Mei 2010 pukul 23:01 WIB
Menyampaikan Dengan Hikmah
25 Maret 2010 pukul 13:32 WIB
Dengan Apa Kita Masuk Surga?
15 Maret 2010 pukul 09:50 WIB
Berkasih Sayang
10 Maret 2010 pukul 07:18 WIB
Awas..! Syndrome Valentine
4 Februari 2010 pukul 22:55 WIB
Catatan
Sabtu, 17 Juli 2010 pukul 08:42 WIB
Air Mata untuk Kekasih

Oleh akhiwiedz

Suatu masa ketika umat Islam dirudung kesedihan. Terangnya matahari tidak dapat mengubah kegelapan hati umat Islam. Kegelapan karena takut kehilangan. Masa tatkala azal mendekati kekasih umat Muhammad SAW. Kucoba untuk menghadirkan diriku pada saat itu. Berkumpul bersama sahabat didekat Nabi yang sedang sakit.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)."

Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?" "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita mencintai seperti Beliau mencintai umatnya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik alaaa wa salim 'alaihi .Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Diakhir hayat masih peduli dengan kita semua. Bahkan dengan kerelaan berharap sakitnya sakaratul maut semua umatnya, Beliau yang menanggung. Saudaraku masih adakah tetesan air mata saat membaca ini? Semoga kita tersadar untuk mencintai Alloh dan RasulNya, seperti perhatiannya Rasulullah SAW kepada kita.

Bagikan

--- 0 Komentar ---

Desy Rahayu | Pegawai
Saya baru bergabung di KotaSantri.com setelah saya membaca beberapa cerita yang sangat menarik, saya berkeinginan juga untuk berbagi cerita dengan Anda semua.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0356 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels