Bilik » Pena | Jum'at, 22 November 2013 pukul 22:00 WIB

Membangkitkan Motivasi Menulis

Penulis : Arry Rahmawan

Menulis memang terlihat sebagai sebuah hal yang sederhana. Ada sesuatu yang ingin disampaikan, tinggal ditulis kemudian dipublikasikan. Namun, sedikit orang yang memang benar-benar menulis dengan semangat, dan lebih sedikit lagi orang yang menulis dengan konsisten. Ternyata memotivasi diri sendiri untuk tetap menulis memang tidak mudah.

Berdasarkan pembicaraan saya dengan teman-teman sesama penulis, kami sepakat bahwa yang menyebabkan orang menjadi tidak bersemangat dan tidak konsisten dalam menulis adalah mereka yang tidak tahu apa tujuan mereka menulis, atau seandainya tahu, banyak di antara mereka yang hanya memiliki motivasi jangka pendek.

Mereka yang tidak mengetahui tujuan menulis memang sedikit, karena orang menulis pasti memiliki tujuan tertentu. Nah, tujuan yang paling banyak yang saya temukan terutama saat melatih beberapa blogger adalah tujuan yang bersifat jangka pendek, seperti uang dan popularitas, di mana motif-motif ini saya sebut sebagai jangka pendek, karena ingin didapatkan dengan cepat. Akibatnya banyak penulis pemula yang merasa kecewa, karena setelah menulis berbulan-bulan lamanya tidak kunjung mendapatkan uang maupun popularitas yang diinginkan.

Saya beserta beberapa teman yang konsisten dalam menulis menyebut orang-orang seperti ini adalah yang menulis bukan dari hati, sehingga akhirnya tidak dapat mencintai pekerjaan menulis itu sendiri. Lantas bagaimana membangkitkan motivasi menulis yang lebih tahan lama? Caranya adalah dengan menanamkan motivasi jangka panjang, yaitu motivasi yang mengharuskan kita untuk menulis walaupun kita tidak mendapatkan apapun.

Motivasi jangka panjang ini antara lain adalah berbagi ilmu yang dilandasi semangat untuk beramal jariyah (amalan yang tidak akan pernah terputus pahalanya walaupun kita sudah tidak ada di dunia), mewariskan ilmu ke anak cucu, memanfaatkan waktu dengan baik, ingin mencerdaskan bangsa, yang bisa dirangkum dalam satu kata, tulus. Ya, tulus dalam menulis yang akhirnya dapat memberi kita rasa cinta untuk terus-menerus menulis.

Seperti misalnya, sebuah artikel pendek yang saya tulis hanya dalam waktu 15 menit berjudul Cara Sederhana Menjadi Penulis Hebat. Jika saya melihat komentarnya, saya sendiri tidak menyangka bahwa tulisan pendek saya tersebut dikomentari positif oleh banyak orang dan itu belum termasuk yang masuk melalui jalur pribadi (e-mail, SMS, dan saluran komunikasi lainnya). Artinya, tulisan pendek kecil itu ternyata bisa memberikan impact kepada orang secara jangka panjang.

Menurut saya, menulis bukan perkara passion atau tidak, namun merupakan kewajiban bagi semua orang yang berilmu dan berpendidikan untuk berkontribusi melalui rangkaian kata-katanya, baik Anda seorang pebisnis, pemimpin, profesional, apalagi seorang yang bertugas sebagai pendidik. Menulis tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang ‘berat’, namun bisa juga menyampaikan nilai-nilai positif sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari.

Yakinlah bahwa sependek atau sesedikit apapun tulisan kita, jika memang itu ditulis dari hati yang paling dalam untuk menyebarkan manfaat, maka tulisan itu akan berguna bagi banyak orang.

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya?

Akhir kata, selamat menulis!

KotaSantri.com 2002-2022