Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Menyembelih Kekikiran
26 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB
Nikmatnya Menulis setelah Tahajud
20 Oktober 2013 pukul 18:00 WIB
Tambah Tua Tambah Mesra
14 Oktober 2013 pukul 21:00 WIB
Bahu Laweyan
6 Oktober 2013 pukul 18:00 WIB
Bilik
Bilik » Pena

Jum'at, 8 November 2013 pukul 21:00 WIB

Menjadi Perajin Kata

Penulis : Eko Prasetyo

Seorang penulis yang baik akan mengemas topiknya secara cerdik sehingga menyenangkan pembaca. Sekarang mari kita melongok ke Umar Kayam, salah seorang penulis hebat yang pernah ada. Ia selalu mampu membuat pembaca takjub.

Salah satu cerpennya yang menjadi bukti ”kesaktian” itu berjudul Kunang-kunang dari Manhattan. Cerita ini mengambil dua tokoh utama, yakni Jane dan Marno. Keduanya sama-sama sudah memiliki pasangan.

Singkatnya, suatu malam keduanya berkencan. Dalam keadaan setengah teler, mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Mereka berdebat ringan, apakah bulan di New York itu berwarna ungu atau kuning keemasan.

Keduanya mencoba mesra, tapi agaknya sia-sia. Mereka terbawa arus kenangan masing-masing. Jane teringat suaminya yang kini bekerja di Alaska. Sementara Marno merasa mendadak istrinya ada di dekatnya.

Lampu-lampu pada barisan pencakar langit di Kota Manhattan itu mengingatkannya pada ratusan kunang-kunang di sawah mbahnya nun jauh di Jawa. Di sisi lain, Jane teringat bagaimana dirinya meninggalkan boneka kesayangannya ketika bersua calon suami di high school.

Cerpen ini begitu memukau karena sang pengarang hampir tak mengatakan apa pun tentang raut dan riwayat tokohnya. Begitu saja terdampar kita menyaksikan serta alasan kejadian. Kita mereka-reka apa yang terjadi sebelum dan sesudah ”adegan” malam itu.

Hebatnya, meski tema cerpen adalah upaya perselingkuhan, Umar Kayam tak perlu membumbui cerita dengan hal-hal sensual agar pembaca terkesan. Justru nilai-nilai estetikanya amat menonjol kendati kemasannya sederhana. Tidak nyastra banget (penuh dengan metafora) layaknya cerpen Triyanto Triwikromo, Seno Gumirah, Agus Noor, ataupun Habe Arifin.

Tak ada laku birahi antara Jane dan Marno, kecuali ragu, enggan, dan salah tingkah. Bahkan, di akhir cerita, Marno mencium dahi Jane dan pamit pulang meskipun Jane menawarinya bermalam di apartemen tersebut dengan menyiapkan piyama.

Di sinilah cerita itu membangkitkan keindahan dan kita nyaman membacanya. Tak heran, saya selalu menyampaikan pesan kepada para siswa dalam pelatihan menulis untuk mampu menjadi perajin kata yang piawai. Dan mereka bisa belajar pada Umar Kayam.

Saya selalu mengalokasikan setengah jam khusus untuk membaca cerpen-cerpen bermutu dari banyak pengarang hebat macam Budi Darma, Lang Fang, ataupun Ratna Indraswati Ibrahim. Nah, karya maestro Umar Kayam ini bisa menjadi salah satu bahan pengajaran menulis cerpen.

Satu hal yang mesti diperhatikan oleh para calon penulis di kelas kami adalah memunculkan roh dalam tulisan. Sebab, tulisan tanpa memiliki jiwa akan mubazir. Sebuah tulisan yang baik harus memiliki nilai mendidik. Memberikan pesan moral. Inilah tugas utama perajin kata. Ia harus mampu mendidik pembaca tentang kehidupan.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Anna Fathimah Zakaria | Staf Pengajar
Baru saya sadari, ternyata KotaSantri.com tidak saja memperluas silaturrahim saya dengan teman-teman dari berbagai daerah di seluruh Indonesia (dan mungkin juga luar Indonesia, insya Allah), tapi juga mendidik saya untuk berperilaku lebih baik dan lebih Islami lagi serta mengajarkan saya banyak pengetahuan. Subhanallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0671 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels