Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://radinal.kotasantri.com
Bergabung
31 Oktober 2009 pukul 05:48 WIB
Domisili
Medan - Sumatera Utara
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Radinal Lainnya
Bilik
Bilik » Pena

Jum'at, 26 Juli 2013 pukul 23:00 WIB

Mengapa Banyak Orang Mengatakan Menulis itu Mudah?

Penulis : Radinal Mukhtar Harahap

Di sela-sela menghadapi Ujian Akhir Semester (UAS) pada semester ini, saya menyempatkan diri untuk membaca buku Neuro-Linguistic Programming: The Art of Enjoying Life karya Teddi Prasetya Yuliawan, Founder Indonesia NLP Society. Saya tidak tahu apakah saya sudah benar-benar mengenal NLP atau tidak, padahal BAB yang sudah selesai saya baca adalah BAB I: Mengenal Neuro-Linguistic Programming. Hal ini dikarenakan, inilah perjumpaan pertama saya dengan bacaan yang secara khusus membahas tentang NLP.

Namun demikian, saya hanya ingin mengikuti apa yang diyakini penulis sebagai sesuatu kebingungan akan makna NLP itu sendiri. Ia mengatakan bahwa biarlah sementara kebingungan ini menjadi milik saya sendiri, karena ia mengingatkan saya untuk tidak pernah merasa puas diri dalam mengarungi kedalaman makna NLP. Misi saya -Teddi Prasetya Yuliawan- untuk menjadikan NLP milik saya dan Anda -Teddi menyapa saya- semua justru akan menjadi semakin menantang dengan adanya hambatan ini.

Ada satu paragraf yang paling saya suka dalam buku ini dan itulah yang mendorong saya untuk menuliskan tulisan ini, walau pun esok, saya akan menghadapi ujian hari pertama di semester 6 ini. Saya menandai kalimat ini pada buku saya. Kalimat ini menyadarkan saya akan pentingnya mempelajari NLP yang akan saya baca pada halaman-halaman berikutnya:

"Mendalami seluk beluk NLP akan membuat kita sadar betul mengapa kita menjadi seperti sekarang dan bagaimana kita bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan. Telusurilah kata-kata yang pernah di-install ke dalam pikiran-perasaan Anda, dan dengan mudah ia akan membukakan fakta blueprint dari model dunia Anda saat ini. Sementara itu, menjadi lebih mudah bagi Anda dan saya untuk menjadi tuan bagi diri sendiri, yakni dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan respon yang kita inginkan. Maka berhati-hatilah dengan berkata-kata, sebab ia akan menjadi program dalam pikiran-perasaan Anda."

Selanjutnya, beberapa halaman sebelum paragraf di atas, tepatnya pada PRAKATA, saya mendapatkan bagaimana penulis buku ini menyelesaikan bukunya. Ia mengaku bahwa ia baru bisa menyelesaikan buku ini jika semua yang ia tulis ini telah terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Saya memahami hal ini bahwa untuk mendalami NLP itu sendiri, seseorang, selain mendalami NLP secara teoritis, ia harus juga memeraktekkannya dalam kesehari-hariannya. Saya masih kurang tahu apakah ini yang disebut oleh Krishnamurti, seorang Mindset Motivator dan Penulis buku Share the Key dalam salah satu endorsment buku ini: Edan! Satu buku yang bisa membuat Anda jadi Practitioner (dalam pemahaman saya praktisi) dan Master Practitioner(Yang mendalami teori dan bisa menebarkannya ke orang lain) Sekaligus!

Baiklah, untuk kali ini saya mencukupkan pembahasan NLP sampai itu. Kemudian, saya ingin mengajak Anda pada kegelisahan yang saya tampilkan pada judul tulisan ini yang, saya rasa, masih sangat berkaitan erat dengan pembahasan NLP di atas. Paling tidak, ada kaitannya walau pun sedikit. Toh, saya sudah mengakui bahwa saya juga orang baru di NLP dan ini adalah pembacaan baru saya pada NLP itu sendiri.

Mengapa Banyak Orang Mengatakan Menulis Itu Mudah, Sementara yang Saya Alami Sebaliknya?

Hmm.. mungkin itu yang banyak saya keluhkan ketika setiap kali menghadiri pelatihan-pelatihan menulis dan mendengarkan bagaimana narasumber menjelaskan tentang hal-hal yang berkaitan tentang menulis. Saya sangat percaya -saat berada di tempat pelatihan itu- bahwa menulis itu mudah karena memang saya belum memeraktekkannya. Tetapi sesampainya di depan komputer atau laptop, permasalahan demi permasalahan pun datang sehingga kesimpulan bahwa menulis itu mudah lenyap seketika.

Saya pun kembali bertanya, "Mengapa Banyak Orang Mengatakan Menulis Itu Mudah, Sementara yang Saya Alami Sebaliknya?"

Saya pun berkenalan dengan NLP dan mulai mengetahui jawabannya. Saya petikkan kalimat dari paragraf dari Teddi yang membuat saya tersadar itu. Mendalami seluk beluk NLP akan membuat kita sadar betul mengapa kita menjadi seperti sekarang dan bagaimana kita bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan.

Saya sadar!

Salah satu hal yang diajarkan dalam NLP di buku ini adalah bahwasanya kita apa yang terjadi dalam kepala kita hakikatnya adalah persepsi yang kita miliki terhadap suatu peristiwa. Teddi mencontohkan dengan sebuah peta daerah yang tidak bisa menunjukkan daerah yang sesungguhnya. Jika saya menunjukkan kota medan misalnya, tempat tinggal saya, hal itu belum tentu benar-benar menunjukkan tempat saya tinggal. Tetapi hanyalah peta yang akan mengarahkan saya pada tempat tinggal saya. Maka ketika saya akan menuju medan, saya akan terbawa oleh peta 'perkiraan' saya tentang medan itu sendiri.

Sama halnya dengan pikiran awal saya yang memahami menulis itu harus begini dan begitu. Jika begini saya lakukan dengan begitu maka saya menyalahi aturan yang ada. Sebaliknya, hal-hal yang begitu, tidak boleh dilakukan dengan begini. Akhirnya, yang ada dalam pikiran saya adalah bahwa menulis itu sangatlah susah karena harus terikat pada aturan dan kaidah yang telah ada.

Berbeda jika yang saya pikirkan adalah hal-hal yang memudahkan saya untuk menulis. Misalnya saja, saya menuliskan tentang NLP ini hanya untuk media pembelajaran dan praktek saya saja. Tidak lebih dari itu. Syukur-syukur jika apa yang saya tuliskan ini sejalan dengan apa yang dipahami oleh para pakar NLP di Indonesia seperti Pak Teddi, Pak Krishnamurti, Pak Ikhwan Shopa, Pak Arvan dan lain sebagainya.

Saya pun sadar, bahwa jika yang saya pikirkan adalah kesulitan menulis, yang akan hadir adalah kesulitan juta. Seperti cerita yang ada dalam buku ini tentang seorang menantu yang membenci mertuanya. Kebenciannya menariknya pada perlakuan-perlakuan yang dibencinya saja. Tidak ada sama sekali perlakuan yang disukainya dari mertuanya tersebut. Sama sekali tidak!

Hingga suatu hari, ia meminta racun paling mematikan pada seorang penjual obat. Untungnya si penjual obat bijaksana. Ia mengambil obat peningkat kesehatan tetapi mengatakan bahwa obat itu adalah racun mematikan. Selanjutnya, ia menyarankan kepada menantu tadi untuk berbaikan dulu pada ibunya sebelum memberikan racun itu. Hal ini harus dilakukan agar, ibunya tidak curiga bahwa ia ingin diracun.

Si menantu pun mengikuti saran penjual obat. Ia berubah total ketika itu. Ia berpura-pura menyayangi mertuanya ibarat ibunya sendiri. Keberpuraannya tersebut menjadi kesungguhan. Ia mulai menyenangi sang ibu dan ternyata selanjutnya, tidak ada kebencian yang dilihatnya dari si ibu mertua.

Maka analoginya adalah, ketika saya memasukkan kesulitan-kesulitan menulis dalam pikiran saya, maka yang saya dapatkan adalah kesulitan dalam menulis. Sebaliknya, jika yang saya pikirkan adalah kemudahan, maka yang saya dapatkan adalah kemudahan.

Mendapatkan Apa yang Diinginkan

Saya telah sadar. Pikiran saya akan sangat berdampak pada perilaku saya. Pikiran saya meyakini bahwa menulis itu sulit, maka perilaku saya akan merasakan bahwa menulis itu benar-benar sulit. Begitu pula kiranya sebaliknya.

Maka untuk mendapatkan apa yang saya inginkan, saya pun harus mengubah cara berpikir saya agar dapat mengubah perilaku saya selama ini. Banyak orang yang mengatakan menulis itu mudah, saya pun harus mengalami hal tersebut dengan terus berlatih. Sampai saat ini, saya telah menghasilkan tulisan -yang bagi saya- lumayan panjang ini.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Radinal Mukhtar Harahap sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

rainbow | Karyawan Swasta
KSC makin keren sekarang, fitur-fiturnya udah kaya FB aja. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0573 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels