Bilik » Pena | Jum'at, 15 Juni 2012 pukul 15:00 WIB

Syari'at Menulis

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Saya melakukan aktivitas sehari-hari saya sebagai seorang guru mata pelajaran Qawa’id Fiqhhiyyah. Tepatnya, kala mengajar di kelas VIII B MTs Muallimin UNIVA, Medan. Yang menjadi pokok materi pelajaran hari itu mengupas tentang disyari'atkanya niat. Di dalam buku al-Qawaa’id al-Fiqhhiyyah karangan Arsyad Thalib Lubis dimuat, bahwa niat disyari'atkan disebabkan tiga hal : 1) untuk membedakan ibadah dengan adat, 2) untuk membedakan ibadah yang satu dengan yang lainnya, 3) untuk membedakan pengiring ibadah yang satu dengan yang lainnya.

Setelah menterjemahkan Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia dan memaparkan kepada anak-anak ketiga hal di atas, saya teringat bahwa di dalam menulis juga ada ketiga syari'at di atas. Pemahaman saya tersebut sangat diperkuat dengan isi ebook “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat” karya Bang Jonru. Tepatnya, dalam tulisan “Mengapa Semua Orang Perlu Menulis? Pada bagian prolog tulisan Bang Jonru menulis, “Walau Anda tidak bercita-cita menjadi penulis profesional, walau Anda menulis hanya untuk mengembangkan bakat, bahkan untuk self therapy.

Jika diperhatikan, kondisi disyari'atkan niat dengan kondisi mengapa orang harus menulis nyaris sama. Dalam syari'at, ada aktivitas sesuatu itu tidak bisa dibedakan antara ibadah dengan adat, kecuali dengan niat. Berwudhu’ misalnya. Andaikata tidak ada niat, segala aktivitas wudhu’ itu dapat diklaim sebagai bagian dari mendinginkan anggota tubuh, sekedar membersihkan segala sesuatu yang nempel di wajah dan sebagainya. Demikian juga dengan menulis, kita baru mengetahui apakah kita menjadikan menulis sebagai profesi, sebagai mengembangkan bakat, atau bahkan sebagai self therapy tergantung pada niatnya.

Selain itu, kita juga baru mengetauhi apakah menulis jadi pekerjaan pokok atau hanya sekedar pekerjaan sampingan alias mengembangkan hobi, atau menulis jenis fiksi atau non fiksi. Hal itu terpulang pada niat juga. Sama hal dengan ibadah. Kita baru tahu itu ibadah wajib, sunnah, atau nadzar semuanya terpulang kepada niat juga.

Tak hanya itu, menulis masih memiliki dimensi yang lain. Karena jenis tulisan fiksi masih terbagi juga kepada beberapa bagian lagi. Ada fiksi jenis cerpen, novel, pantun, puisi, dan sebagainya. Begitu juga dengan non fiksi. Ada tulisan jenis resensi, opini, analisis, feutuere. Jika dianalogikan dengan ibadah, ini bagian dari pengiring ibadah-ibadah wajib, seperti shalat rawatib. Ada rawatib qabliyyah dan ba’diyah.
Oleh karena itu, tak salah jika memililih alasan mengapa kita menulis dari sisi mana saja. Yang terlebih penting seberapa kuat niat kita untuk melakukannya. Karena tanpa niat yang sungguh-sungguh, hasil yang ingin dicapai tidak akan pernah terwujud. Persepsi ini diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW, “Sesungguhnya segala amal itu tergantung pada niatnya.” Pada titik inilah ada cabang kaidah fikih “al-Umuru bi Maqashidaha” yang berbunyi, “La Tsawaba illa Binniyati” (tidak ada pahala kecuali dengan niat). Tepatlah apa yang digagas bang Jonru tentang penulis hebat, “Penulis hebat merujuk pada hal-hal yang bersifat soft skill, seperti rasa percaya diri, motivasi yang tinggi, semangat yang tak pernah padam, pantang menyerah walau banyak kendala yang dihadapi, dan sebagainya.”

Klimaksnya, menjadi penulis hebat harus memiliki niat yang kuat dan mantap. Karena penulis sukses adalah akibat dari penulis hebat. Penulis sukses pasti berawal dari penulis hebat. Bila Anda bukan penulis hebat, atau bila Anda punya masalah dalam hal motivasi, rasa percaya diri, semangat juang untuk meraih sukses, dan seterusnya. Maka jangan berharap Anda bisa menjadi penulis sukses. (eBook Cara Dahsyat Menjadi penulis hebat).

KotaSantri.com 2002-2021