Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://setta.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Mampang Prapatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Analis Industri
Penikmat sastra, admin situs Cerpen Koran Minggu di http://lakonhidup.wordpress.com
http://lakonhidup.wordpress.com
setta_81@yahoo.com
setta_81@yahoo.com
Tulisan Setta Lainnya
Hai, Muslim! Apa Karyamu?
3 Februari 2012 pukul 11:15 WIB
Alin
22 Januari 2012 pukul 10:00 WIB
Hari Itu, Aku Belajar dari Mulutnya!
11 Desember 2011 pukul 10:00 WIB
Karma Ki Pradopo
30 Oktober 2011 pukul 15:00 WIB
Sumpah Paul
18 September 2011 pukul 12:00 WIB
Bilik
Bilik » Pena

Jum'at, 1 Juni 2012 pukul 17:00 WIB

Menulis untuk Keabadian

Penulis : Setta SS

Suatu ketika Pramoedya Ananta Toer pernah berujar, “Bila umurmu tak sepanjang umur dunia, maka sambunglah dengan tulisan.”

Saya sependapat dengan apa yang diutarakan oleh beliau. Satu contoh riil, hari ini saya masih dapat membaca seri kisah detektif Hercule Poirot —seorang detektif Belgia bertubuh kecil dengan deskripsi kepala berbentuk telur dan suka sekali akan kerapian— berjudul “Death in the Clouds” atau diterjemahkan menjadi “Maut di Udara” karya Agatha Christie. Anda masih ingat, tahun berapa buku tersebut pertama kali diterbitkan?

Tepat sekali, 1935—atau 76 tahun silam. Kemudian versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia pertama kali dirilis oleh PT Gramedia pada Januari 1987. Padahal penulisnya sendiri sudah mangkat di tahun 1976. Agatha Christie meninggalkan warisan tak kurang 77 novel dan kumpulan cerita detektif yang terjual puluhan juta eksemplar dalam berbagai versi bahasa dunia.

Lantas, seberapa validkah relasi antara aktivitas saya menulis di blog ini dan usaha menyambung usia? Saya kadang berpikir usil, “Apakah akan ada yang mengenang saya selepas tutup usia nanti?” Apakah cukup sekadar menulis di blog gratisan ini sebagai pengingat generasi yang akan datang 50 tahun kemudian?

“Writing is thinking. If you can’t think, you can’t write.”—Robert Pinckret. Menulis ternyata lebih dari sekadar merangkai alphabet menjadi kata dan serangkaian kalimat semata, tetapi adalah sebuah proses pembelajaran berpikir. Tulisan ini besok boleh saja dihapus, tetapi “ruh tulisan”—pemikiran—yang terkandung di dalamnya sangat mungkin masih akan mengendap di pikiran bawah sadar seorang pembaca hingga ia tutup usia. Bahkan tak menutup kemungkinan intisari tulisan ini akan diwariskannya pada generasi setelahnya, pada anak-cucunya.

Jadi ada satu syarat utama agar menulis dapat memanjangkan umur. Dibaca orang selain saya. Maka tidak penting lagi apakah media pembacaan itu adalah sebuah buku yang dicetak ulang ribuan eksemplar di lembar-lembar eksklusif atau sekadar blog gratisan atau media apa pun. Tafsir paling sederhananya, tulisan apa pun jika tak ada orang lain yang membacanya, gugurlah ujaran Pramoedya.

Saya sudah menulis di blog ini dan dibaca sekian orang. Saya yakin sekali itu meski saya tidak tahu siapa saja orang yang telah berkenan membacanya. Pertanyaan saya berikutnya, “Apakah hasil pembacaan tulisan-tulisan tersebut kelak akan turut serta mengantarkan saya ke gerbang surga atau malah akan menjadi pemberat perantara yang menyemplungkan saya ke palung neraka?”

Hal inilah yang kemudian harus selalu saya pertanyakan dan dievaluasi kembali setiap kali akan menulis di sini, di blog ini. Jika benar materinya berisi nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran, apakah tidak terselip pamrih lain?

Sungguh pada akhirnya aktivitas menulis, bagi saya, ternyata tak sesederhana yang semestinya. Selalu ada hal urgen yang harus saya pertanyakan terlebih dahulu sebelum memulai. Untuk apa menulis ini, mengangkat tema itu, menceritakan peristiwa C, mengutip kisah T, dan lain sebagainya.

Jika benar steril dari segala pamrih, sebuah pertanyaan lagi yang sangat memberatkan saya sudah menanti, “Mengapa kamu mengatakan (menulis) apa yang tidak kamu perbuat?” Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan (menuliskan) apa-apa yang tiada kamu kerjakan.

Semoga saya selalu dibimbing-Nya untuk belajar menulis buat bekal keabadian sejati itu. (*)

Jakarta, 12 Juni 2011 22:18 WIB

http://lakonhidup.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Eka | Karyawan
Salam kenal untuk semua yang ada di KotaSantri.com. Saya baru ikut program ini, tempat ini memang tempat yang paling tepat untuk membekali pengetahuan dengan agama. Pokoknya okelah, tempat mengisi kekosongan disaat kesepian.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1306 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels