Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Bagaimana dengan Keikhlasan Kita?
10 Desember 2013 pukul 20:00 WIB
Pepes Jamur
8 Desember 2013 pukul 23:00 WIB
Kiat Memotivasi Anak
7 Desember 2013 pukul 21:00 WIB
Antara Kemiskinan dan LAZ
30 November 2013 pukul 20:00 WIB
Jangan Serakah
27 November 2013 pukul 19:00 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 12 Desember 2013 pukul 21:00 WIB

Abdul Latef Ibrahim : Pahami Islam dari Jurus Silat

Penulis : Redaksi KSC

Abdul Latef Ibrahim menganut agama Kristen. Namun, ia lebih tertarik pada mencari spiritualitas di luar agama. "Bagi saya, Kristen tidak relevan dengan zaman. Itu sulit bagi saya untuk menemukan sesuatu di dalamnya yang bisa saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari," kata dia seperti dikutip onislam.net.

Ibrahim waktu itu menghindari segala hal yang berbau agama. Ini karena ia percaya semua agama itu sama, atau setidaknya mirip dalam hal kurangnya relevansi dan kegunaan. Ia menyadari banyak penganut agama non-Islam, yang frustasi lantaran minimnya pengetahuan dan bimbingan terhadap sifat-sifat Allah.

"Saya merasa aneh ketika harus berkomunikasi dengan seorang manusia di satu sisi, dan Tuhan di sisi lain," kata dia.

Bagi Ibrahim, itu menyulitkannya untuk memahami apa hubungan manusia dengan Tuhan. Apakah serumit itu sehingga manusia tidak bisa berdo'a secara langsung kepada Tuhan. Atau mengapa harus ada kalimat tertentu sebelum mengakhiri do'a.

"Jujur, saya merasa lapar dengan pendekatan yang lebih mudah. Satu agama yang memberikan saya bimbingan yang benar, bukan hanya dogma yang gugur dengan akal pikiran," kata dia.

Selama menjalani kuliah pascasarjana, Ibrahim memiliki teman seorang Yahudi. Ia merupakan atlet bela diri. Kebetulan, mereka teman sekamar. Temannya itu mempelajari silat, seni bela diri Melayu. "Ia selalu menyebut istilah spiritual, yang membuat saya tertarik. Inilah awal saya mendalami silat," kenangnya.

Pertama kali berlatih, ia bertemu seorang guru silat bernama Sulaima. Melalui dia, Ibrahim untuk kali pertama tahu tentang ajaran Islam. Dari pengalaman pertama, Ibrahim begitu terkesan dengan konsep ajaran Islam. Ini yang kemudian menjadi bahan diskusi bersama teman-temannya.

"Selama itu, saya berada dalam lingkungan Islami. Saya menemukan konsep integrasi antara agama dan rutinitas sehari-hari. Hal yang tidak pernah saya temukan dalam agama saya," kata dia.

Seiring perjalanan waktu, ketertarikan Ibrahim terhadap Islam semakin membesar. Perlahan tapi pasti, Ibrahim mulai menyadari bahwa Islam merupakan panduan hidup yang lengkap.

Pada 30 Juli 1999, Ibrahim memutuskan menjadi Muslim. Sebelum keputusan ini, ada dua hal yang menjadi pertimbangannya. Pertama, budaya Barat yang begitu tertanam dalam dirinya, apakah bisa beradaptasi dengan ajaran Islam. Di Amerika, kebahagiaan didefinisikan oleh apa yang kita miliki dan mengkonsumsi, dengan demikian, seluruh kebudayaan diarahkan pasar.

Kedua, menjadi seorang ilmuwan sosial, ia berkeinginan menghilangkan penyakit sosial. Pertanyaannya, apakah Islam bisa menyembuhkan perilaku sosial yang tidak sehat.

"Setelah saya pikirkan relevansinya, saya memutuskan Islam begitu relevan dengan kehidupan saya. Saya jadi paham mengapa agama ini berbeda dengan agama lainnya," kata dia.

Setelah keputusan itu, seperti halnya mualaf lainnya, Ibrahim dihadapkan dalam satu situasi dimana ia menghadapi penolakan dari keluarga dan lingkungannya. Keluarga Ibrahim memandang keputusannya dengan lebih kepada khawatir adanya gap budaya yang berdampak pada perbedaan.

"Saya selalu katakan kepada mereka, menjadi Muslim itu bukanlah hal negatif," kata dia.

Ibrahim mengungkap Allah SWT telah menyiapkan umatnya Al-Qur'an dan Hadits, kedua pedoman dalam menjalani kehidupan. Ini termasuk ketika menghadapi penolakan dalam keluarga.

"Anda tahu, hari ini, banyak pertanyaan yang menyudutkan Islam. Saya tahu mengapa begitu banyak orang takut, padahal hidup sangat menakutkan tanpa Allah," kata dia.

"Sekarang, saya tahu mengapa saya di sini, ke mana saya ingin pergi, apa yang saya inginkan dalam hidup saya," tambahnya.

Dari Republika Online

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aini Mardiyah | Mahasiswa
Di sini tempat untuk kamu-kamu yang ingin memanaj qalbu, artikel-artikel di web ini Insya Allah bermanfaat. Hehehe... Ada tulisan ane juga low!
KotaSantri.com © 2002 - 2018
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1036 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels