Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Mie Cha Cha
15 September 2013 pukul 23:00 WIB
Nyatakan kepada Allah Kehinaanmu
13 September 2013 pukul 21:21 WIB
Tidak Ada Penangguhan
10 September 2013 pukul 22:22 WIB
Dua Puluh Satu Kali!
8 September 2013 pukul 20:00 WIB
Yang Hilang dari Wanita
5 September 2013 pukul 22:00 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 19 September 2013 pukul 23:00 WIB

Melissa Perez : Kagumi Ritual Shalat

Penulis : Redaksi KSC

Melissa Perez lahir dan besar dalam keluarga Katolik. Sejak kecil, ia akrab dengan ritual Katolik seperti Natal, Misa, dan Rosario. Meski keluarganya percaya pada satu Tuhan, yang disebut Yesus, namun, pada waktu lain mereka menyebutnya lain, yakni Bapa. Inilah yang membingungkan Mellisa.

Menurut Melissa, cara hidup Katolik tidak benar-benar ketat. Meski banyak aturan dalam Alkitab yang mewajibkannya mengikuti dan mempraktekannya, ia tidak merasa ada banyak tekanan guna mengikuti aturan itu.

"Dalam Katolik, ketika Anda sungguh-sungguh bertobat kepada-Nya, maka Allah akan mengampuni Anda. Prinsip ini mirip dengan ajaran Islam. Yang membedakan mungkin, setiap dosa tanggung jawab masing-masing, kalau Katolik dosa itu ditanggung Yesus," kata dia seperti dikutip Onislam.net.

Lantaran dibesarkan dalam ajaran Katolik, Melissa tidak mengetahui ajaran lain. Ia bahkan tidak mengenal ajaran Islam. Ia hanya tahu umat Islam itu pembunuh. Mereka kerap membunuh orang lain ketika marah.

Saat di Filipina, Melissa melihat umat Islam jarang berbaur dengan komunitas Kristen. Mereka memiliki komunitas dan wilayah tersendiri. "Ketika saya masih menetap di Filipina, rasanya sangat mustahil belajar Islam. Ketika di luar, saya bersyukur mengetahui pesan sejati Islam, Alhamdulillah," tuturnya.

Melissa belajar hidup mandiri pada usia muda. Orangtuanya bercerai ketika ia masih muda. Kala menghadapi kesulitan itu, Melissa tidak tahu dengan siapa harus berbicara. Sejak itulah, ia memutuskan meminta pertolongan Tuhan.

Pada usia 18 tahun, Melissa mulai bekerja di luar negeri dengan harapan dapat mencapai kehidupan yang lebih baik. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil membeli rumah dalam usia 23 tahun

Saat tinggal di luar negeri, Melissa merasakan perbedaan yang besar dalam hal budaya. Ia memiliki kebebasan yang tak mungkin didapatnya ketika berada di Filipina.

Kemudian ketika berusia 29 tahun, muncul keinginan untuk menetap. Ia mulai berpikir membentuk keluarga kecilnya. "Saat itulah, saya bertemu dengan suaminya via internet, lalu saya diajak ke Mesir, dan Alhamdulillah, kami menikah di sana," tuturnya.

Awalnya, Melissa bingung ketika ia bersuamikan seorang Muslim. Ia membayangkan akan ada kesulitan adaptasi. Suaminya berhasil menyakinkan Melissa untuk tidak terlalu khawatir. "Yang jadi masalah, bagaimana saya menjelaskan kepada keluarga bahwa suami saya seorang Muslim," ungkapnya.

Perlahan tapi pasti, banyak kemudahan yang didapat Melissa dalam membina keluarga kecilnya. Yang menarik perhatiannya, justru suaminya itu mulai mendalami ajaran Islam secara intensif. Selama itu, suaminya kerap memberikan banyak hal baru yang didapatnya selama mendalami ajaran Islam.

Awalnya, Melissa merasa tidak nyaman meski banyak hal yang menarik baginya terkait ajaran Islam. Ia sangat terkejut ketika umat Islam mengenal Yesus. Itulah yang membuatnya kian bimbang.

"Satu lagi, saya tertarik melihat bagaimana Muslim melaksanakan shalat. Saya melihat Tuhan sangat layak dipuji dengan cara itu," kata dia. Hingga suatu ketika ia mencoba belajar shalat. Ia spontan melakukan arena ingin merasakan bagaimana Muslim melaksanakannya.

Setiap kali mencoba, Melissa merasakan kenikmatan. Hanya saja ia masih belum yakin apakah ia siap dengan kewajiban lainnya yang dilakukan Muslim. Selain itu, ia belum tahu banyak tentang sosok Nabi Muhammad.

"Suamiku berkata, belajarlah bertahap jangan semua dipelajari dalam satu hari. Ketika siap, Tuhan dengan sendirinya akan membimbingku," kata dia menirukan ucapkan suaminya. Tak lama, ia bersama suaminya mendengarkan ceramah berjudul "Tujuan Hidup".

Ceramah itu dibawakan Sheikh Khalid Yasin. Ketika mendengarkan ceramah itu, satu hal yang menarik didapatnya adalah Allah itu satu dan Muhammad adalah utusan-Nya. Mendengar ceramah itu, hati Melissa mulai luluh.

Keesokan harinya, iapun mengucapkan dua kalimat syahadat. Usai bersyadahat, Melissa tak menunggu lama untuk mempelajari dan memahami Islam. Baginya, tak ada kata terlambat untuk belajar.

Sekian lama mendalami Islam, Melissa memutuskan mengenakan jilbab. Inilah yang awalnya sulit dijalaninya. Sebab, puluhan tahun ia terbiasa berpakaian tanpa penutup kepala dan seluruh tubuhnya tertutup. Usai mantap mengenakan hijab, ia mendapatkan kesempatan melaksanakan haji.

Momen berhaji sangat istimewa baginya. Pulang haji, Melissa kian mantap memeluk Islam. Ada satu hal yang ia ingin lakukan yakni membawa nikmat Islam kepada keluarga dan kerabatnya. Untuk lingkungan di sekitarnya, ia merasa telah membawa sebagian dan mereka merasakan nikmat Islam. Hanya sayang, keluarganya belum juga diberikan hidayah. "Insya Allah, mereka diberikan hidayah," kata dia.

Dari Republika Online

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nurudin | Swasta
Sekilas KSC memiliki apa yang dimiliki facebook yang membuat banyak orang 'kecanduan'. Tapi bila dicermati, facebook tidak memiliki apa yang dimiliki KSC. Maaf facebook, tak lama lagi aku akan meninggalkanmu, aku mendapatkan apa yang tak aku dapatkan darimu.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0546 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels