Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Kwik Dyit Soen : Sulit Memahami Trinitas
15 Maret 2012 pukul 16:00 WIB
Lasminah : Atas Bimbingan Kakak
2 Februari 2012 pukul 15:00 WIB
Maria Christin Mamahit : Disiksa karena Masuk Islam
19 Januari 2012 pukul 16:00 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 29 Maret 2012 pukul 16:00 WIB

Eng Ming Chin : Kugapai Nur Islam Lewat Petualangan

Penulis : Indra Widjaja

Kala Allah SWT sudah menghendaki dan menakdirkan sesuatu, maka tak satupun selain Dia yang mampu mengubahnya. Contohnya saya, yang lahir dari keluarga Tionghoa dan beragama Konghucu, kini telah memilih Islam sebagai pembimbing jalan hidup, meski tantangan senantiasa membayangi langkah saya

Eng Ming Chin adalah nama yang diberikan orangtua pada saat saya dilahirkan pada 1964. Sayang, saya tak sempat bermanja-manja dengan mama, karena beliau meninggal dunia pada saat saya berusia dua tahun. Sedangkan papa saya, Wie Chu Giat, adalah seorang nelayan yang berpenghasilan lumayan. Kami waktu itu menetap di Desa Temeran, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Ketika masuk usia sekolah, saya dimasukkan ke SD Temeran. Di kelas satu itu muridnya cukup majemuk, terdiri atas beberapa etnik yang berbeda agama dan budayanya, seperti Melayu, Batak, dan Cina. Tapi, yang terbanyak tetap orang Melayu yang beragama Islam.

Mata pelajaran agama yang diberikanpun adalah mata pelajaran agama Islam. Oleh karenanya, setiap pelajaran agama tiba, teman-teman saya yang nonmuslim, diizinkan untuk tidak mengikuti pelajaran. Semua teman saya yang nonmuslim tadi keluar kelas, kecuali saya yang tetap tinggal.

Suatu saat bahkan saya disuruh keluar oleh Pak Yahya, guru agama SD Temeran. Tapi, saya tetap tak peduli. Entah mengapa, saya menjadi begitu tertarik dengan pelajaran agama Islam yang disampaikan Pak Yahya itu. Barangkali karena papa saya sudah terlalu sibuk dengan urusannya, sehingga kurang memberikan bimbingan keagamaan kepada saya. Kebiasaan mengikuti pelajaran agama Islam itu tetap saya lakukan. Tanpa terasa sudah dua tahun berlalu. Setelah itu, entah mendengar dari kabar siapa, akhirnya papa saya tahu juga kebiasaan saya di sekolah itu (belakangan baru saya tahu bahwa teman saya sekelaslah yang mengadukannya).

Tanpa menunggu waktu lagi saya dipanggil. Setengah mengancam papa melarang saya mengikuti pelajaran agama Islam di sekolah. Tetapi, ancaman itu tetap tak saya pedulikan. Saya tetap dengan kebiasaan itu. Karena sudah tak mempan diancam, akhirnya papa mulai main tangan. Hampir setiap hari saya mendapat pukulan dan tamparan dari papa. Hal itu berlangsung sampai saya duduk di kelas empat SD, tahun 1974.

Setelah di kelas enam SD dan sudah lebih berani, setiap kali papa akan menghukum, saya segera kabur dari rumah. Pernah sekali waktu saya melarikan diri selama satu bulan ke Bantan Air, bersembunyi di rumah penghulu (Kepala Kampung). Ketika saya pulang ke rumah papa memberi ultimatum, "Kalau kamu masuk ke agama lain, kamu tidak berhak memperoleh harta warisan, dan kamu akan dikeluarkan dari lingkungan keluarga."

Alhamdulillah, pada 1979 saya lulus SD setelah dua kali tinggal kelas dan setahun tak masuk sekolah. Itu semua karena antara papa dan saya terjadi konflik terbuka. Setelah lulus SD, saya menjadi lebih nekat. Badan saya sudah kebal dengan berbagai pukulan, mulai tangan sampai rotan. Bahkan, setelah itu secara terus terang di hadapannya saya katakan kalau saya mau masuk Islam.

Sudah saya duga papa pasti akan marah besar. Kembali pukulannya mendera badan saya. Tapi kali ini tekad saya sudah bulat. Saya harus pergi, apapun resikonya. Dengan bersepeda saya kabur ke Bengkalis. Setelah beristirahat selama tiga jam, timbul pemikiran baru. "Percuma saya menetap di Bengkalis. Papa dan pihak keluarga saya lambat laun pasti tahu," kata saya membatin. Akhimya saya putuskan untuk pergi ke Bantan Tua, karena di sana hampir setiap hari ada tongkang (perahu tempel) yang pulang pergi ke Malaysia untuk membawa pekerja gelap atau "pendatang haram" ke negeri itu.

Dalam perjalanan menuju Bantan Tua, saya berjumpa dengan Pak Basyiran, seorang tua yang nekat mengadu nasib di negeri orang. Kepadanya saya katakan bahwa saya pun siap untuk bekerja di sana. Waktu itu umur saya sudah 13 tahun. Singkatnya, saya berhasil diselundupkan ke Malaysia setelah tiga hari tiga malam dalam pelayaran, dihempas gelombang dan gulung ombak yang nyaris memporak-porandakan tongkang kami. Bersama kawan satu rombongan saya ditempatkan di ladang Makasar. Di sanalah saya bekerja sebagai buruh. Tepatnya sebagai tenaga kerja gelap tanpa perlindungan hukum.

Di sela-sela waktu istirahat, saya manfaatkan waktu untuk berdiskusi agama dengan teman-teman sekerja yang seluruhnya orang Indonesia. Di antara mereka ada yang bertanya, "Apakah Anda orang Islam?" Barangkali mereka heran, ada pemuda bermata sipit berdiskusi tentang Islam. Lalu, saya jelaskan bahwa saya belum masuk Islam dan justru ingin minta pertolongan untuk menjadi seorang muslim.

Jawaban mereka hampir senada. Karena saya bukan warga negara Malaysia, maka mereka tak berani menolong. Saya mafhum, karena status mereka pun sama dengan saya, pendatang haram. Karena keadaan saya yang seperti itu, terpikir oleh saya bahwa saya harus kembali ke Bengkalis untuk memudahkan niat masuk Islam.

Tahun 1984 saya putuskan untuk berhenti bekerja setelah genap lima tahun mengadu nasib di perkebunan negeri Jiran itu. Begitupun halnya dengan Pak Basyiran yang kembali pulang ke Bengkalis. Sedangkan saya, meskipun sudah berhenti bekerja, tapi saya tak segera pulang ke Bengkalis. Saya justru ingin mencari seorang alim yang dapat membimbing saya ke jalan Islam.

Karena tekad saya itu, akhirnya Allah mempertemukan saya dengan Haji Imam Salim. Beliau seorang Imam Masjid al-Falah di Simpang Renggam. Setelah saya ceritakan latar belakang kehidupan saya, termasuk liku-liku perjalanan saya sampai ke Malaysia, beliau amat terharu.

Hanya saja, karena status saya itu ia tak bisa membantu saya untuk diislamkan secara resmi melalui pejabat agama setempat. Tetapi secara tak resmi beliau telah membimbing saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Di masjidnya saya dibimbing untuk mengenal Islam secara serius dan tekun.

Beliau pulalah yang memperlihatkan kepada saya cahaya Islam sebagai pelita kehidupan. Tak sekadar membimbing, beliau pun membantu saya mencari kerja di sebuah perkebunan milik Tun Doktor Ismail, Simpang Renggam. Di waktu istirahat setelah seharian bekerja, saya pergunakan untuk memperdalam agama Islam.

Melihat dahaga saya terhadap ilmu agama, beliau menyarankan agar saya melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren yang ada di Jawa Timur, seperti Tebu Ireng dan Gontor. Beliau tidak menyebutkan pesantren yang ada di Malaysia, sebab orang Malaysia justru lebih banyak belajar di Jawa.

Singkat cerita, setelah kurang lebih empat tahun tinggal di rumah Haji Imam Salim, akhimya saya pamitan untuk pulang kampung, sekaligus untuk mengurus pengislaman saya secara resmi. Beliau amat mendukung niat saya itu. Sebagai ungkapan duka cita atas kepergian saya, saya diberinya nama Khoirul Amri bin Abdullah. Sejak itu saya bukan lagi Eng Ming Chin yang dulu. Waktu itu tahun 1988.

Dengan menumpang tongkang, akhirnya saya tiba kembali di Tanah Air, tepatnya di Desa Bantar yang berhadapan dengan kota Selat Panjang, Tebing Tinggi, Kabupaten Bengkalis. Di desa itulah saya berkenalan dengan Bapak Zainuddin, orang yang banyak membantu proses pengislaman saya.

Ketika usia saya memasuki 24 tahun, dengan dibimbing Ustadz Nawawi, Imam Masjid Desa Bantar, disaksikan kepala desa, akhimya saya resmi menjadi seorang muslim. Sejak itu, nama Khoirul Amri bin Abdullah, pemberian Haji Imam Salim, resmi saya pergunakan dalam setiap urusan saya. Waktu itu tahun 1988.

Setelah resmi menjadi seorang muslim, saya bermaksud menjumpai guru saya untuk melaporkan ikhwal keislaman saya itu. Tetapi, karena tak punya ongkos jalan, akhimya saya bekerja pada suatu kapal balak (kapal pengangkat kayu gelondongan yang akan diolah menjadi tripleks). Lewat kapal itulah akhirnya saya bisa bertemu kembali dengan guru saya sekaligus menjadi orangtua angkat saya di Simpang Renggam. Beliau pun tetap menyarankan agar saya melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren yang ada di Jawa.

Untuk merealisasikan cita-cita saya itu, saya pun bekerja pada Restoran al-Amin di Sigamat, Johor. Gaji yang saya peroleh saya kumpulkan sedikit demi sedikit, sehingga dalam tempo tiga tahun tabungan saya berjumlah 2287 ringgit Malaysia (senilai satu juta enam ratus ribu rupiah, kurs ringgit saat itu).

Setelah saya rasa tepat waktunya, saya mohon pamit kepada Haji Imam Salim untuk bertolak ke tanah Jawa. Dalam perjalanan via laut melalui Dumai dan Selat Panjang, saya mendapat musibah. Seluruh uang hasil jerih payah selama bekerja di Restoran al-Amin itu amblas dicopet orang. Karena musibah itulah akhimya saya terdampar beberapa lama di Pulau Batam. Untuk menyambung hidup, saya bekerja di kantin milik Bea Cukai Batam.

Barangkali Anda dapat merasakan betapa pahitnya pengalaman hidup saya ini. Empat belas tahun berpisah dengan keluarga, hidup berkelana dari satu negeri ke negeri yang lain, ibarat orang yang terbuang. Tetapi syukurlah pengalaman pahit saya di waktu kecil telah menempa saya menjadi orang yang tabah dan tegar menghadapi cobaan. Kini, saya telah menemukan cahaya Islam yang mengaliri seluruh jiwa raga sarnpai akhir hayat.

http://indra.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

rainbow | Karyawan Swasta
KSC makin keren sekarang, fitur-fiturnya udah kaya FB aja. ;)
KotaSantri.com © 2002 - 2014
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0760 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels