|
QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
|





Kamis, 29 Desember 2011 pukul 17:00 WIB
Penulis : Kamaruddin
Janna barangkali tak pernah menyangka, liburannya bersama keluarga ke Uni Emirat Arab (UAE) sekitar 13 tahun lalu menjadi sesuatu yang cukup berkesan dalam hidupnya.
Ia seorang Yunani yang dibesarkan di lingkungan keluarga dengan tradisi Yunani Ortodoks yang sangat kental. Gadis kelahiran Jerman ini selalu pergi bersama keluarga besarnya untuk menghabiskan waktu liburan. “Waktu umurku sekitar 13 tahun, kami berkeliling UAE,” tuturnya.
Ketika itu hari Jum'at. Janna benar-benar sangat terkesan mendengar suara adzan. Semua orang yang sedang berada di pasar tiba-tiba saja menghentikan seluruh aktivitasnya. Mereka mengambil karpet, memenuhi jalan untuk shalat. “Saya benar-benar ingin tahu apa sebenarnya maksud suara panggilan itu,” ujarnya.
Ia sama sekali tak mengerti tentang adzan. Namun, suatu ketika, suara itu mengubah jalan hidupnya.
Phobia Kematian
Janna termasuk seorang yang unik. Ia mengalami phobia kematian. Ia akan berusaha secepat mungkin menghindari obrolan tentang kematian. Ia juga belum pernah menghadiri pemakaman.
Semuanya tiba-tiba berubah saat melihat sang paman meninggal dunia tepat di hadapannya. “Saya berpikir, ternyata kita banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang bisa saja hilang dalam hitungan detik,” katanya.
Setelah melihat kematian sang paman, ia mengalami kesulitan tidur. Semalaman, ia terbangun hingga tiga kali, memastikan ayah dan ibunya masih bernafas di malam itu.
Ketakutannya terhadap kematian membuatnya mulai meneliti tentang Islam. “Sebelumnya, saya pernah meneliti agama lain. Tapi belum menemukan susuatu yang meyakinkan,” ungkapnya.
Saat mulai membaca tentang Islam, ia menemukan jawaban yang tak dapat ia temukan pada agamanya sendiri. Keyakinannya tumbuh kala membaca sirah (biografi) Rasulullah. “Saya melihat Nabi Muhammad sebagai orang mulia dengan karakter yang luar biasa,” katanya.
Setelah membaca sirah nabi, ia sadar harus menghapus segala sesuatu yang ia ketahui tentang Islam. Dan merasa harus belajar lagi dari nol, karena fakta-fakta tentang Islam yang ia ketahui selama ini, tak semuanya benar. Ia mulai menyadari Islam sebagai sebuah kebenaran.
Meskipun sudah yakin, Janna masih takut untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia masih memikirkan bagaimana respon orangtuanya. Ia yakin keluarganya pasti takkan bisa menerima jika ia menjadi seorang Muslim. Dan hidupnya pasti akan berubah secara dramatis.
Setelah sempat galau, Allah mempertemukan Janna dengan seorang mahasiswa Jerman asal Mesir, bernama Noha. Bagi Janna, pertemuan dengan Noha sangat membantunya meyakinkan diri tentang keimanan yang sedang dirasakan. “Saya mendapatkan keberanian yang lebih untuk meyakinkan apa yang sedang saya lakukan. Dia (Noha) banyak membantu,” kata Janna.
Noha mulai menjelaskan segala sesuatu tentang Islam. Sekitar satu setengah bulan kemudian, Janna pun bersyahadat. “Alhamdulillah, saya bersyahadat di hadapan sekitar 20 saksi. Saya takkan pernah melupakan syahadat dan shalat saya yang pertama,” ujarnya.
Diambil dari Republika
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Kamaruddin sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.