|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 22 Desember 2011 pukul 20:00 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Saya lahir 13 September 1966 sebagai anak tertua dari 7 bersaudara. Kami sejak lama bermukim di Kampung Coyudan, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Terus terang saya akui keluarga kami termasuk abangan alias tidak kenal agama, meskipun tidak termasuk atheis.
Di kampung kami yang hanya berjarak lebih kurang 200 meter, berdiri sebuah bangunan yang megah, yaitu Wihara Dwipa Loka, sebuah tempat ibadah untuk umat Budha. Uniknya, wihara tersebut letaknya tepat berhadapan dengan Pondok Pesantren Kiai Parak. Ketika masih sekolah, tiap hari saya mesti melewati dua bangunan suci itu. Pada waktu itu saya tidak tertarik untuk menganut salah satu agama. Tetapi, karena pengaruh pergaulan akhirnya saga menganut agama Katolik.
Meskipun saya sudah terdaftar menjadi jamaah di gereja Katolik, tapi rasa-rasanya tidak menarik hati. Dalam batin saya terjadi pertentangan yang bersumber dari kepercayaan pokok, yaitu doktrin trinitas. Saya menjadi bimbang. Mana mungkin Tuhan Yang Maha Esa terdiri atas tiga unsur (Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus) ? Akhirnya saya malas pergi ke gereja. Dengan demikian, saya kembali lepas tanpa pegangan hidup.
Bagaimana reaksi ternan-teman segereja? Yang jelas saya dikritik dan dikatakan sebagai orang bodoh. Tetapi, semua itu saya hadapi dengan sabar. Perlu diketahui, kampung kami juga dikenal dengan sebutan Kampung Jerman alias Jejer Kauman. Itu karena letak kampung kami dekat sekali dengan Kampung Kauman. Lima kali dalam sehari semalan terdengar suara azan dari Masjid Jami Bambu Runcing di Kampung Kauman tersebut.
Salah seorang sahabat baik engkong (kakek) saya yang sering berkunjumg ke rumah kami, bemama Bapak M. Agus Sangaji. Saya pun tahu kalau beliau itu dulunya non-muslim. Tapi kini, beliau sudah menjadi seorang dai.
Bila Pak Agus berkunjung dan ngobrol-ngobrol dengan engkong saya, sedikit-banyak pasti membicarakan masalah agama. Anehnya, ada sesuatu yang menarik hati saya, yaitu pembicaraan yang menyangkut agama Islam. Menurut Pak Agus, hanya Islamlah agama yang akan menyelamatkan umat manusia di dunia dan akhirat, karena pengertian atau makna Islam adalah selamat.
Singkat cerita, atas kesadaran sendiri, tanpa bujuk rayu dari pihak mana pun, saya bertekad menjadi seorang muslim yang sejati. Keinginan itu segera saya utarakan kepada Bapak Sangaji. Allumdulillah, beliau menyambutnya dengan penuh syukur dan gembira.
Dalam waktu singkat saya diantar Bapak Agus Sangaji ke Kantor KUA Kecamatan Parakan untuk memproses pengIslaman saya itu. Alhamdulillah, di bawah bimbingan Bapak Zaini Ikhsan B.A., Kepala KUA Kecamatan Parakan, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat, dengan saksi Bapak M. Agus Sangaji. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada tanggal 31 Oktober 1994. Sejak saat itu saya resmi menjadi seorang muslim dengan nama baru, Edi Suhartoyo.
Meskipun baru menjadi seorang muslim, namun saya sudah merasakan perubahan dalam hidup saya. Antara lain, hati saya menjadi lebih tenang dan tenteram. Pikiran saya pun menjadi terang serta tidak emosional. Kunci utama semua perubahan itu saya rasakan setelah saya melakukan shalat lima kali sehari secara rutin.
Kini, buat saya shalat bukan saja merupakan kewajiban, tapi sudah menjadi kebutuhan. Tiap manusia tentu ingin hidup sehat, baik jasmani maupun rohani. Menurut saya, shalat juga sebagai bukti ketaatan seorang hamba (manusia) kepada Tuhannya (Allah SWT). Demikian juga, shalat itu adalah tiang agama. Siapa yang melakukan shalat, berarti is menegakkan agamanya. Siapa yang meninggalkan shalat, berarti is merobohkan agamanya.
Alhamdulillah, tak lama setelah masuk Islam, sava mendapatjodoh seorang gadis muslimah bernama Haryunani Rita Dewi. la berasal dari Desa Tunggoro, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Dalam waktu yang relatif singkat, saya menikah dengannya secara Islam. Suatu keberuntungan yang semula tidak pernah saya duga.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.