|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 24 November 2011 pukul 16:00 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Awal ketertarikan saya pada Islam sudah berlangsung sejak lama. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayah saya penganut agarna Kristen Protestan yang sangat fanatik. Sebab, keluarga ayah juga penganut agama Kristen yang sangat kuat. Ibu saya-menurut cerita yang saya dapat dulunya penganut Islam, namun setelah menikah malah ikut agama ayah.
Ayah mendidik saya sangat keras, terutama mengenai soal agama. Dari kecil saya sudah diperkenalkan dengan ajaran Kristen. Saya harus, bahkan diwajibkan membaca Alkitab setiap saat. Untuk lebih memperdalam lagi, saya disuruh mengikuti pendidikan setiap hari Minggu di gereja. Bahkan, ayah mendatangkan guru privat tentang Alkitab ke rumah kami.
Karena dididik seperti itu, lama-lama saya berpikir untuk apa ayah mewajibkan saya mempelajari dan mendalami agama ini sejak kecil hingga remaja? Apakah saya akan dijadikan seorang penganut Kristen yang taat? Atau ia sengaja mendidik saya seperti itu karena latar belakang orangtua ibu saya yang muslim.
Akhirya saya tahu juga. Ayah mendidik saya seperti itu dengan tujuan menjaga iman saya agar tidak terpengaruh ajaran agama lain. Tapi itu bertentangan dengan hati nurani saya. Saya sendiri ingin bebas dalam hal memilih agama. Saya sudah bosan dengan didikan seperti itu. Saya ingin mencari hal lain dari hidup yang beragam ini.
Rasa ingin bebas dan itu akhirnya membawa saya pada pengetahuan ajaran Islam. Kebetulan setiap liburan saya berkunjung ke rumah kakek dari pihak ibu dengan latar belakang agama Islam yang kuat. Saya sering memperhatikan kakek clan nenek saat mereka beribadah. Mereka sangat khusyu beribadah, terutama shalat.
Mereka juga tak pernah mengajak saya untuk pindah agama. Namun dari pandangan mata mereka, saya tahu, mereka sangat kecewa akan keputusan ibu yang telah ikut agama ayah.
Dari seringnya saya berkunjung ke sana, lama-kelamaan saya berkeinginan untuk pindah keyakinan. Saya merasakan bahagia saat melihat mereka selesai shalat. Hati kecil saya selalu mengatakan bahwa saya harus segera pindah agama. Bahkan, ada keinginan untuk mencoba beribadah shalat atau berwudhu.
Keinginan untuk pindah agama, makin mendesak nurani saya. Saya merasakan adanya tarikan yang kuat untuk segera meninggalkan keyakinan lama. Namun, saya yakin ayah tak rela jika saya pindah keyakinan dari Kristen ke Islam.
Namun di balik ketakutan itu, secara diam-diam saya mencoba untuk beribadah seperti yang dilakukan umat muslim, misalnya berwudhu, shalat, dan berpuasa. Selain itu, saya juga sering berdiskusi dengan teman-teman yang beragama Islam. Dengan bertukar pikiran, saya yakin dapat menghilangkan rasa takut. Terkadang mereka sering meminjami buku buku agama Islam.
Dari buku bacaan itu, saya banyak mendapat pengetahuan tentang ajaran Islam. Yang saya suka dari bacaan itu adalah kisah-kisah para nabi, terutama Nabi Muhammad SAW. Saya sangat kagum akan hidup dan perjuangan beliau. Saya ingin sekali membaca biografi Nabi Muhammad secara lengkap.
Bagi saya, Nabi Muhammad merupakan nabi terakhir yang sangat patut dicontoh perilaku dan akhlaknya, baik oleh umat Islam maupun umat non Islam. Selain buku kisah nabi, saya juga dipinjami buku buku tentang perbandingan agama. Walaupun buku-buku itu buku pelajaran, namun saya sangat antusias membacanya. Saya berkeyakinan buku-buku itu akan memberikan manfaat yang besar.
Rasa takut saya muncul biasanya saat ayah berada di rumah. Saya sering sembunyi-sembunyi bila mendengar suara adzan di televisi atau mencoba melakukan ibadah. Saya sangat takut jika suatu ketika dipergokinya. Rasa takut ini membuat saya menjadi gelisah. Bukan itu saja, rasa takut itu justru menciptakan pergulatan batin dalam diri saya. Jika saya mengambil keputusan, ayah pasti memarahi, atau bahkan mengusir saya. Jika tidak mengambil keputusan, batin makin gelisah. Terus terang, saya tidak bisa membohongi hati nurani ini untuk menerima kebenaran Islam.
Akhirnya saya utarakan kegelisahan saya pada teman sekolah yang beragama Islam. Oleh mereka, saya disuruh mengutarakan kembali kepada bapak guru agama. Dari sanalah saya mendapat penjelasan bahwa agama Islam tidak pernah memaksa kepada orang yang beragama lain di luar Islam. Agama Islam justru menerima kehadiran penganut agama lain untuk memeluknya. Selain itu, saya mendapat berbagai penjelasan tentang agama Islam.
Setelah mendengar itu, hati saya merasa sejuk dan damai. Saya merasakan kebahagiaan teramat dalam yang seakan-akan menenggelamkan rasa takut yang selalu menghimpit. Saya bersyukur mendapat kebahagiaan itu. Keterangan itu semakin meyakinkan saya untuk segera memeluk Islam.
Kepada ibu, saya berterus terang ingin pindah agama. Dengan curahan kasih sayang, ibu malah menyetujuinya. Ibu mengatakan bahwa ia juga ingin seperti saya. Namun itu nanti, katanya.
Setelah merasa cukup yakin, saya kembali kepada bapak guru agama untuk segera mengislamkan saya. Namun sebelum pengislaman itu dimulai, pak guru bertanya apa saya sudah benar-benar serius dan tidak main-main? Dengan hati mantap dan yakin saya menjawab, "Benar." Akhirnya di hadapan guru-guru dan teman-teman, saya mengucapkan dua kalimat syahadat.
Pengucapkan syahadat itu saya lakukan tepat tiga hari menjelang Natal. Saya merasa bahagia. Tak terasa air mata menetes dari kedua mata ini. Di saat menjelang Natal yang biasa saya lakukan dengan ayah, kini telah saya gantikan dengan kalimat-kalimat tauhid. Saya sangat gembira menjadi seorang muslimah. Perpindahan keyakinan ini adalah hal yang sangat saya nantikan sejak lama.
Untuk memperdalam agama Islam, saya banyak belajar dari teman-teman rohis/OSIS sekolah. Walaupun secara diam-diam, saya tetap menjalankan ibadah di rumah. Saya yakin keputusan yang saya ambil ini pastilah menimbulkan masalah. Ayah pasti tak rela jika saya memeluk Islam. Ayah pasti akan mengusir saya. Tapi saya siap dengan segala risiko.
Selain ayah, teman-teman saya yang dulu seiman dengan saya, kini juga mulai menjauhi saya. Walaupun dijauhi teman dan dimarahi ayah, saya tetap bertekad untuk mempertahankan Islam sebagai keyakinan baru saya.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.