QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Wijaya Alex A Hai : Kutemukan Kedamaian dalam Islam
27 Oktober 2011 pukul 21:21 WIB
Rasyid Hartono : Ingin Punya Anak Shaleh
13 Oktober 2011 pukul 15:30 WIB
Tjiong Hwie Hok : Ingin Selamat Dunia Akhirat
29 September 2011 pukul 15:15 WIB
Sinarto T.S. : Islam Sesungguhnya
15 September 2011 pukul 15:45 WIB
Sulaiman Dufford : Dianggap Pengkhianat
1 September 2011 pukul 18:00 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 10 November 2011 pukul 15:30 WIB

Liem Chie Yung : Di Tempat Kerja, Saya Temukan Islam

Penulis : Indra Widjaja

Malam semakin larut. Suasana hening itu menjadi begitu damai, sehingga saya terlelap dalam mimpi yang indah. Hanya sesekali terdengar suara cecak di seputar dinding kamar. ltu tak membuat saya bergeming dari sisi pembaringan, sayapun terus menyambung istirahat yang tertunda setelah seharian bekerja.

Hari sudah jauh malam. Dalam tidur sayup-sayup, saya dengar orang sedang membaca Al-Qur'an di masjid dekat tempat saya tinggal. Suara itu begitu lembut dan indah, hingga merasuk dalam relung hati saya yang paling dalam. Bahkan, menjalar ke sendi-sendi tubuh. Perasaan haru bercampur sedih menyelimuti malam itu. Saya pun gemetar dibuatnya.

Ketika terjaga dari tempat pembaringan, sava merenungkan arti suara itu. Saat adzan memanggil, sava merasakan ada sesuatu yang mengajak dan membimbing saya untuk mengambil air wudhu dan melakukan shalat. Mungkinkah ini hidayah Allah kepada saya ?

Nama kecil saga Liem Chie Yung. Ketika remaja saga akrab dipanggil Yohannes Liman. Saya lahir di Jakarta pada tanggal 7 Januari 1957. Saya anak ke-7 dari 11 bersaudara. Papi saya bernama Liem Yeh Ing asal Tiongkok. Sedang mami bernama Chow Kwe, WNI keturunan yang lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Keluarga kami penganut Budha yang taat. Waktu kecil saya sering diajak papi ke wihara untuk sembahyang. Untuk membimbing kami sekeluarga mengenai ajaran Budha, papi sengaja mendatangkan seorang pendeta Budha yang saleh. Saya pun tak luput dari tuntunannya. Kendati papi orang tua yang taat dalam beragama, beliau juga seorang yang demokratis dalam soal lainnya.

Terbukti, setelah dewasa kami bebas memeluk agama yang sesuai dengan kepercayaan kami masing-masing. Satu per satu kakak dan adik saya memeluk agama Kristen. Orang tua kami tidak melarang. Mereka hanya menasehati, agama apa saja yang dianut harus diyakini sepenuhnya dan ajarannya mesti ditaati.

Juga mengenai masalah ekonomi keluarga, papi selalu memberikan kesempatan kepada kami untuk memecahkan secara bersama setiap ada persoalan yang mengganjal. Inilah yang membuat saya bangga kepada papi yang begitu arif dan bijaksana.

Simpati Pada Islam

Setelah tamat SLTP, saya memutuskan untuk tak melanjutkan sekolah, tapi ingin bekerja untuk membantu beban keluarga. Akhirnya saya diterima bekerja pada sebuah pabrik radio kaset. Saya senang bekerja di pabrik itu. Di samping dapat banyak belajar mengenai radio, suasana tempat bekerja juga sangat menyenangkan. Saya banyak bergaul dengan orang, terutama orang pribumi yang beragama Islam.

Dari pergaulan itu saya banyak mengenal Islam lebih jauh, karena hampir rata-rata teman-teman saya beragama Islam. Saya menyenangi mereka. Di sini, saya benar-benar merasakan arti pergaulan yang sesungguhnya. Sava sadari, selama ini kebanyakan teman-teman saya yang non-pri hanya mau bergaul jika memberikan keuntungan materi. Kalau tidak menguntungkan, jangan harap bisa diterima bergaul dengan mereka.

Sebaliknya, bergaul dengan orang-orang Islam di pabrik tempat saya bekerja, membuat saya berpikir bahwa hidup ini bukan hanya mencari harta atau hanya mengurusi soal perut semata, tapi ada yang lebih penting lagi, yakni mengenai hubungan antara sesama manusia dan jugs terhadap Tuhan. Saya akui, selama ini saya sudah jarang mengikuti kegiatan keagamaan di wihara. Saya merasa sudah jauh dari Tuhan.

Kekaguman saya terhadap kehidupan teman-teman sekerja membuat saya suka memperhatikan mereka. Pada waktu istirahat, saya lihat mereka melakukan ibadah shalat. Mereka begitu tekun menjalankan ibadah. Di mata saya mereka begitu suci. Wajah mereka seakan memancarkan sinar kesejukan, sehingga memberikan rasa damai bagi siapa pun yang melihatnya.

Dalam kehidupannya, mereka begitu tabah menghadapi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Sehingga, saya berusaha ingin mengetahui lebih jauh mengenai agama Islam. Apalagi setelah saya mempunyai seorang kekasih yang beragama Islam, Sofiah namanya. Maka dengan mudah saya bertanya mengenai Islam kepadanya. Sofiah pun begitu antusias menerangkan setiap pertanyaan saya.

Banyak sudah yang saya ketahui mengenai Islam, terutama mengenai Allah SWT, kerasulan Muhammad saw., wahyu (Al-Qur'an), dan shalat.

Dalam Islam saya temukan kesucian. Kalau ingin shalat, kita harus mengambil air wudhu terlebih dahulu. Waktunya pun sudah terjadwal, lima kali dalam sehari. Sedangkan dalam. agama Budha, sembahyang dapat dilakukan kapan saja, dan untuk menghadap Tuhan, dalam keadaan kotor pun boleh. Ini yang membedakan Islam dengan Budha.

Masuk Islam

Malam itu, setelah Saya mcndengar orang mengaji dan panggilan adzan dari masjid dekat tempat sava tinggal, saya pun merenung. Setelah melalui pertimbangan yang panjang, akhirnya sava putuskan untuk memeluk agama Islam. Singkat cerita, pada tahun 1982, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di Masjid al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tak lama kemudian sava melangsungkan pernikahan dengan Sofiah. Hari demi hari saya jalani hidup dengan kebahagiaan bersama keluarga.

Kini, saya sudah dikaruniai 3 orang anak. Ini merupakan rahmat Ilahi yang harus kami syukuri. Dalam kegiatan keagamaan saya banyak dibimbing oleh saudara istri saya, yaitu Ustadz Hasan. Saya akui, pertama kali menjadi seorang muslim, menjalankan ibadah memang cukup berat, terutama puasa.

Tapi dengan ibadah secara ikhlas yang berat pun terasa ringan. Alhamdulillah; sekarang saya sudah mempunyai usaha servis barang elektronik di rumah kami sendiri di jl. Makaliwe, Grogol, Jakarta Barat. Sebagai usaha yang bergerak di bidang jasa, saya rasakan usaha ini belum mencukupi kebutuhan rumah tangga. Tapi saya percaya rezeki datang dari Allah, dan saya yakini ini merupakan ujian dari-Nya. Hal ini membuat saya lebih tabah menjalani hidup di kota metropolitan ini.

Dari mualaf.com

http://indra.web.id

Suka
Nurliyanti menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Riesna | I'm Real Jobless
KotaSantri.com adalah situs keren yang memungkinkan kamu mengetahui dan mempelajari ilmu agama Islam lebih jauh, mudah, dan mengena. Di sini juga kamu bisa saling bersilaturahmi dengan para santri, melalui email dan chatting room yang tak kalah keren!

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0972 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels