
Bilik » Mualaf | Kamis, 19 Agustus 2010 pukul 22:40 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Saya, I Kadek Hendrawan, yakin bahwa Islam ternyata bukan seperti agama yang saya bayangkan, tapi Islam benar-benar memberikan ketenangan jiwa yang tidak pernah saya temukan sebelumnya. Islam juga mempunyai toleransi yang tidak pula saya temukan sebelumnya. Islam mempunyai toleransi yang besar terhadap sesama umat manusia dan rasa sosial yang tinggi, yang kadang saya banding-bandingkan dengan agama lain.
Ruh Islam seakan jauh sekali dari hidup saya, karena sejak usia kanak-kanak saya sangat akrab dengan lingkungan agama Hindu. Tak heran, karena ayah saya termasuk seorang Pemangku (sesepuh agama Hindu). Sejak usia dini, saya sudah disibukkan dengan beragam aktivitas ritual. Antara lain sembahyang dengan berbagai sarana, seperti dupa, bunga-bungaan, serta air yang semuanya merupakan alat menuju kekhidmatan kepada Sang Penjaga Alam. Kebiasaan ini saya ikuti saja, hingga saya memasuki sekolah menengah atas (SMA) di Singaraja, Bali.
Bulan Juni 1997, saya pindah ke Jakarta guna meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan. Ayah sangat berharap saya menjadi orang yang berpendidikan tinggi. Segeralah saya dikirim ke Jakarta guna mewujudkan kemauan ayah.
Di Jakarta, saya sudah mulai kenal pergaulan kota metropolitan, yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. Pergaulan ini sangat jauh berbeda dengan di kampung halaman saya yang hampir semua berbasis Hindu dan Budha. Kebiasaan Fanatik beragama yang ditanamkan keluarga masih melekat kuat dalam keseharian saya di Jakarta. Saya masih sempat mencari pura, tempat untuk berdo'a kepada Sang Hyang Widhi.
Karena saya sering bertemu pemeluk agama Islam, terlebih teman kuliah dan sekamar yang juga pemeluk agama Islam yang aktif dalam melaksanakan ibadah, maka saya merasa familiar dengan lingkungan Islam. Semua yang ada di sekeliling lingkungan baru saya itu didominasi nuansa dan sarana-sarana peribadahan umat Islam. Dan perilaku, ucapan, sampai dekorasi kamar juga diwarnai ornamen-ornamen Islam. Pergaulan dengan teman yang muslim itu berlangsung sangat akrab dan rukun, meskipun kami berbeda akidah dan keyakinan.
Di kampus, saya diwajibkan mengambil mata kuliah dasar umum, yaitu mata kuliah yang terfokus pada materi agama Islam. Karena saya harus melengkapi SKS dan ujian negara, dengan berat hati saya harus mengambil dan mempelajari materi itu, meskipun harus berlawanan dengan keyakinan saya. Saya berusaha untuk memahaminya.
Menjelang tengah semester, saya sering bertukar pikiran bersama Totok -teman sekamar saya- terutama tentang materi kuliah agama. Saya sering menemukan kesulitan yang sama sekali tidak saya tahu jawabannya. Saya hanya tahu sebatas tentang hubungan baik umat beragama.
Berkat bimbingan Totok, walaupun dengan sedikit pertengkaran, saya semakin mengerti tentang Islam. Saya paham tentang tata cara orang Islam melakukan peribadatan kepada Tuhannya. Berawal dari teman yang setiap waktu melakukan shalat dengan gerakan-gerakan yang kesemuanya saya anggap lucu dan aneh sekaligus saya sempat berpikir betapa kecilnya manusia di hadapan Tuhannya, sampai harus menundukkan kepala dan mencium tanah (sujud).
Setelah saya tanyakan, itulah yang disebut shalat. Umat Islam diwajibkan melaksanakannya lima kali dalam sehari semalam. Sedangkan agama Hindu, hanya dua kali dalam satu bulan, yaitu sembahyang nilem (awal bulan sampai pertengahan bulan) dan purname (ketika bulan purnama tanggal 15 sampai akhir bulan).
Tak jarang, dalam mempelajari materi kuliah, saya sering dihadapkan pada sebaris tulisan Arab yang sulit membacanya, karena saya memang belum pernah melihatnya. Untung, teman sekamar saya mau membantu membaca dan menerangkan apa maksud tulisan itu. Saya bisa mengerti sebatas membaca terjemahannya saja. Akhirnya, ujian tengah semester berhasil saya kuasai, khususnya materi agama Islam yang saya sendiri tidak melakukan ajaran itu.
Rasa ingin tahu tentang Islam semakin kuat setelah saya sering mendengar ayat Al-Qur'an yang dibaca teman saya sehabis melaksanakan shalat maghrib. Rasa penasaran tentang isi ayat itu berlarut setelah saya secara diam-diam membuka terjemahan Al-Qur'an milik teman saya yang diletakkan di dalam rak buku ketika dia sedang tidak di rumah.
Di situ saya temukan potongan kalimat yang isinya, "(Kitab ini) tidak ada keraguan di dalamnya dan merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." Belum selesai berpikir tentang kalimat itu, betapa kagetnya saya setelah teman saya itu masuk kamar secara tiba-tiba tanpa permisi.
Akhirnya, rasa penasaran itu saya bawa dalam lamunan tidur, meskipun saya belum berani mengutarakan pertanyaan tentang siapakah orang yang bertakwa itu. Rasa gelisah yang menyiksa batin saya itu membawa saya untuk lebih jauh mengetahui isi kandungan Al-Qur'an. Apa sebenarnya kandungan ayat-ayat itu yang diyakini oleh seluruh kaum muslimin sedunia.
Pagi harinya, saya keluarkan semua unek-unek yang mengganjal dalam benak saya tentang kebenaran Islam. Saya ungkapkan semua keresahan yang membuat saya tidak bisa tidur. Teman saya sangat terkejut menanggapi hasrat saya yang dalam untuk menemukan Islam. Akhirnya, saya mulai membandingkan dengan ajaran agama saya.
Dengan penjelasan yang cukup gamblang, ditambah pengetahuan yang saya dapatkan dari dosen, ternyata saya semakin meragukan keyakinan saya selama ini. Saya melihat banyak jalan buntu yang sering terjadi dalam agama Hindu. Islam mampu memberikan jalan yang arif sesual kemampuan umat manusia.
Segera saya utarakan niat untuk memeluk Islam. Teman saya itu masih menanyakan, apakah saya benar-benar siap menerima Islam sebagai agama saya? Dibawanya saya pada salah seorang ketua rohani Islam di kampus. Dengan disaksikan semua anggota Lembaga Dakwah Kampus (LDK), saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Saya sekarang menjadi seorang muslim.
Rasa cinta terhadap Islam, kini semakin terasa setelah saya banyak belajar tentang Islam melalui buku. Tak jarang di tengah jam kuliah, saya habiskan waktu untuk membaca buku buku agama guna melengkapi pengetahuan saya tentang Islam. Kini, hanya satu harapan saya, semoga kelak orangtua saya di Bali, terbuka hatinya untuk menerima kebenaran Islam. Aamiin.
Dari mualaf.com
KotaSantri.com © 2002-2012