|
QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
|
|
|
http://kotasantri.com |





Kamis, 10 Desember 2009 pukul 21:30 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Ia memperoleh hidayah dari Allah disaat berjaya sebagai peragawati dan model kelas dunia di Perancis. Fabienne! Itulah nama seorang peragawati sekaligus model kelas dunia asal Perancis. Sejumlah majalah yang sering menjadi acuan kaum wanita Eropa pernah memuatnya, termasuk sebagai sampul dengan tubuh yang bisa membuat jakun lelaki naik turun di lehernya karena menelan liur.
Tetapi justru pada puncak kejayaan itulah, Fabienne memperoleh hidayah dari Allah, tepatnya ketika usianya mencapai 28 tahun. Ia tidak bisa menundanya, apalagi menampiknya, karirnya dilepaskan tidak secara drastis. Gejala perpindahan agama antara lain tampak ketika ia menuju Afghanistan sebagai sukarelawan. Maksudnya sebagai tenaga medis amatiran bagi korban perang.
Ia mengaku, kalau saja bukan rahmat dari Tuhan, entah bagaimana kehidupannya. Walaupun ia sering memperoleh sanjungan dari publik melalui berbagai entertainment, toh ia menganggap rendah atas hakikat dirinya. Malah dengan tegas ia menganggapnya lebih rendah ketimbang hewan-hewan di sekitarnya (mungkin maksudnya hewan piaraan). Untuk apa karir bila naluri dengan famili terdistorsi. Katanya, ia atau umumnya peragawati dan model, hidup dalam dunia gelap serta kotor. Hanya saja di antara mereka sepertinya tidak berani mengungkapkan kenyataan tersebut.
Saat bekerja sebagai sukarelawan, ketika ia diwawancarai, wartawan sempat melihat kukunya. Ia tidak menyangka bahwa telapak tangan, kuku tajam, dan kulit tangan yang sebelumnya dipelihara secara rutin kini dipakai untuk menangani korban perang di pegunungan.
Sebelumnya ia pernah ke Beirut di Libanon untuk urusan show. Kota itu diporak-porandakan oleh tentara Israel, sementara penduduk sedang membangun rumah dan hotel. Suatu kali, dengan mata kepalanya sendiri, Fabienne melihat rumah sakit anak-anak hancur di Beirut. Semakin sadarlah Fabienne akan kepopuleran dan kehidupan dimana di dalamnya banyak kepalsuan.
Ia tidak kembali ke hotel meskipun ia tahu bahwa teman-temannya seprofesi sedang menunggu untuk manggung. Ia malah menuju korban dengan segera, menolong bocah-bocah dari timpaan benda-benda keras, lalu mengangkat serta merawatnya. Memang, sejak kecil, Fabienne bermimpi menjadi tenaga medis professional. Di sinilah titik tolak perjalannya menuju cahaya Islam.
Selanjutnya Fabienne menuju Pakistan. Di perbatasan dengan Afghanistan inilah ia menjalani atau mendalami akan hidup hakiki, termasuk tentang bagaimana menjadi manusia dalam arti sebenarnya. Selama tinggal di sana sekitar delapan bulan itu, kegiatannya di samping menerima ilmu keislaman juga menolong dan merawat para korban perang. Meskipun bentuknya berbeda jauh 180 derajat dengan profesi Fabienne, ia sungguh-sungguh menyenanginya. Di sana, ia pun mempelajari bahasa Arab demi memperlancar pemahamannya akan kandungan Al-Qur'an.
Minggu demi minggu telah dilewatinya. Perubahan atas dirinya pun sangat tampak. Khusus tentang karirnya sebagai peragawati dan model sudah jauh ditinggalkan, karena ia sudah merasa kehidupannya berdasarkan norma Islam. Ia tidak lagi dikungkung oleh penyebaran gambar tubuh dirinya di tempat-tempat stategis seperti di berbagai lorong di Paris. Belum lagi macam-macam gosip maupun fitnah menimpa dirinya pada saat kejayaannya.
Sayangnya, berita yang dikutip tidak menjelaskan tentang kapan dan di mana Fabienne berikrar menjadi seorang Muslimah. Mernang adanya warga Perancis masuk Islam sudah menjadi berita rutin di media massa sana. Tetapi muslimnya Fabienne menjadi fenomena tersendiri. Ini berhubung karirnya sebagai peragawati dan model kelas dunia.
Dari Tabloid Amanah
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.