QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
Alamat Akun
http://setta.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Mampang Prapatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Analis Industri
Penikmat sastra, admin situs Cerpen Koran Minggu di http://lakonhidup.wordpress.com
http://lakonhidup.wordpress.com
setta_81@yahoo.com
setta_81@yahoo.com
Tulisan Setta Lainnya
The Great Meeting
21 April 2009 pukul 15:23 WIB
Yang Sedikit pun Masih Sering Terabaikan
20 April 2009 pukul 18:12 WIB
Ia Datang Tak Mengetuk Pintu Lebih Dulu
6 April 2009 pukul 15:55 WIB
Ladang Angkara
27 Maret 2009 pukul 17:15 WIB
Well-Dying
23 Maret 2009 pukul 16:30 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 30 April 2009 pukul 22:55 WIB

Selamat Berjuang, Saudariku!

Penulis : Setta SS

Jika kau mau mempelajari Islam, belajarlah dengan hati dan banyak merenung. Ambillah teladan Rasul kami, Muhammad SAW, bukan ulama, ustadz, atau kiai yang banyak khilaf dan salah. Apalagi menjadikan diriku yang berlumur dosa ini sebagai contoh.

Dan ketahuilah, masuk Islam itu adalah sebuah pilihan, hidayahNya, sekaligus buah dari pencarian yang sungguh-sungguh bagi mereka yang yakin akan adanya hari Kiamat.

Tulis saya via layanan pesan singkat pada S, seorang wanita, 23 tahun. Menutup diskusi panjang kami yang hampir mengarah pada debat kusir, seperti hari-hari sebelumnya.

***

8 Maret 2008 pukul 23:00 WIB lewat sekian menit. Sebuah pesan singkat dari S masuk ke hp saya. Dia mengabarkan, selepas shalat Isya di Sabtu malam itu ia telah kembali ke Islam. Mengucapkan dua kalimat syahadat. Tanpa sepengetahuan keluarganya. Mengakhiri pergulatan panjangnya tentang pencarian sebuah keyakinan yang hakiki.

S mulai tertarik untuk mengenal lebih jauh Islam saat satu-satunya kakak perempuan S meninggal dunia sebagai seorang muslimah. Ia heran melihat kakak perempuannya yang kembali ke Islam saat sudah dewasa itu begitu taat dan sangat mencintai agama barunya. Melihat sikapnya yang begitu tegar mempertahankan keyakinannya seorang diri di tengah keluarga besarnya yang Protestan.

Memilih kembali Islam bukanlah sebuah keputusan yang mudah bagi S. Keluarganya adalah para aktivis gereja yang taat. Kakeknya seorang pendeta. Dan ia pun diancam akan diasingkan dari keluarganya jika memilih Islam.

Sewaktu masih hidup, kakak perempuan S memiliki beberapa anak angkat dan mengundang guru privat untuk mengajari mereka membaca Al-Qur’an dan belajar Islam di rumah. Diam-diam, S ikut melihat dan mendengarkan apa yang diajarkan guru privat itu pada anak-anak angkat kakaknya seputar Islam.

Ia juga bertanya pada beberapa teman akrab kakaknya via SMS. Setelah sang kakak wafat, S yang memegang ponsel milik kakaknya. Membandingkan antara agamanya dan ajaran Islam.

Walaupun sejujurnya, saya tidak tahu pasti berapa persen kadar kebenaran isi SMS-nya itu. Saya tinggal di Yogyakarta, sedangkan ia berdomisili di satu sudut Jakarta. Semoga S berkata benar, bahwa ia telah mengikuti jejak kakak perempuannya menjadi seorang muslimah kini.

Satu hal yang membuat saya yakin dengan pengakuannya, ialah karena ia juga memberitahukan perihal keislamannya itu pada salah seorang sahabat saya.

Semoga.

***

Saya masih ingat salah satu sesi diskusi di antara kami beberapa waktu sebelumnya.

“Apa pendapatmu tentang perzinaan atau hubungan seks antara seorang ayah dengan anak perempuannya?” Sebuah pertanyaan sensitif. Dan, sungguh, saya ingin tahu apa pendapatnya tentang hal ini.

“Tak ada kata lain yang lebih pantas selain orang yang melakukannya adalah orang yang sakit jiwa!”

Begitulah ungkapan emosional darinya sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Spontanitas. Seperti yang sudah saya duga sebelumnya.

“Coba kau buka Injil kitab Kejadian pasal 19 ayat 30-36.”

Lama S tidak membalas sms saya. Tidak seperti biasanya, di mana ia akan langsung membalasnya saat itu juga.

“Kau sudah membacanya? Bagaimana bunyinya?” pancing saya.

Hampir setengah jam berselang, balasan dari S baru masuk.

Ia tidak menjawab pertanyaan itu. Tetapi sengaja mengalihkan topik diskusi kami. Dan bertanya tentang hal lain yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Islam dan agamanya.

“Maaf, aku tidak akan menjawab pertanyaanmu sebelum kau jawab dulu pertanyaanku tadi.”

Dan, saya pun tersenyum menang malam itu.

Bagaimana mungkin yang dinamakan kitab Tuhan yang suci banyak memuat adegan cerita incest di dalamnya? Pelajaran moral apa yang bisa diambil dari isi kitab suci yang seperti itu?

(30) Pergilah Lot (Nabi Luth a.s.) dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anak perempuannya di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar. Maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya.

(31) Kata kakaknya kepada adiknya, “Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.

(32) Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.”

(33) Pada malam itu, mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.

(34) Keesokan harinya, berkatalah kakaknya kepada adiknya, “Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.”

(35) Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur; lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.

(36) Lalu mengandunglah kedua anak Lot (Nabi Luth a.s.) itu dari ayah mereka. (Kejadian 19 : 30-36)

Seorang anak laki-laki berhubungan dengan ibunya. (Kejadian 35 : 22)

Seorang ayah berhubungan dengan menantunya sehingga memperoleh anak kembar dari menantunya tersebut.” (Kejadian 38 : 15-18)

Di lain waktu, saya bertanya padanya tentang apa itu konsep Trinitas. Ia hanya diam. Tak ada jawaban keluar darinya satu kata pun. Ia menyerah.

Dan, sekali lagi, harus mengakui betapa rancunya nilai-nilai pokok yang diajarkan dalam agamanya itu. Berbeda dengan ajaran Islam yang sejalan dengan fitrah kemanusiaan dan bisa dibuktikan secara ilmiah.

***

Saudariku, jika benar kau sudah kembali Islam kini, maka peganglah ia erat-erat. Jangan pernah terlintas dalam benakmu untuk melepaskannya kembali. Ingatlah, kembali ke Islam bukan akhir dari pencarianmu. Tapi sesungguhnya itu adalah pintu gerbang dari kehidupanmu yang baru.

Teruslah belajar untuk lebih mengenalnya. Hingga kau pun bisa mencintainya sebagaimana kakak perempuanmu dulu sangat mencintainya.

Selamat berjuang, Saudariku!

***

15 Maret 2oo8 o9:19 a.m.

http://lakonhidup.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Setta SS sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fariz Aziz | Mahasiswa
Alhamdulillah KotaSantri.com masih ada. Udah 2 tahun nich gak browsing web ini.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0392 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels