|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|





Jum'at, 19 Februari 2010 pukul 20:32 WIB
Penulis : Pretty Kurnia
Sepasang bola mata
Memandangmu jenaka
Menelusuri raut bercahayakan keteduhan
Pesonamu yang pancarkan binar harapan
Bila bahagiaku berguguran
Engkaulah yang pertama punguti serpihannya
Yakinkan aku tiada sendirian
Nyalakan api semangat, membakar nestapa
Bila sepiku datang
Engkaulah yang pertama meramaikannya
Senandungkan kalam cinta dariNya
Penuhi rongga jiwaku yang kerontang
Bila ceriaku tiba
Kau temaniku dalam diam
Meski kutahu hatimu turut bahagia
Sekedar ingatkanku, nun jauh di sana
Berjuta asa tlah padam
"Tiadakah upaya tuk berbagai rasa?"
Bola mata itu kini tetap memandangmu
Meski tiada nyata dan jauh
Namun tetap kuharapkan senyum yang bersemu rindu
Menantiku seperti halnya mentari
Layangkan setia janji merpati
Kepakkan sayapku dalam cakrawala inspirasi
Mengasihiku laksana samudera biru
Karena engkau, pintu Firdaus kan bersauh
Tapaki jalanNya bersama dengan ridhamu
Sepasang bola mata itu adalah milikku
Permata hati yang lahir dari rahimmu
Dedicated to My Mother
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Pretty Kurnia sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.